Daulah Abbasiyah, yang berlangsung dari tahun 750 hingga 1258 M, merupakan era kemajuan dan terobosan penting dalam bidang ilmu dan pemikiran di dunia Islam. Pada masa ini, penafsiran atau tafsir Al-Quran sangat diperhatikan dan dikembangkan. Dalam penulisan kali ini, kita akan mengeksplorasi dua metode penafsiran ayat Al-Quran yang muncul dan diterapkan selama masa Daulah Abbasiyah.
1. Tafsir Bi Al-Ma’thur (Tafsir Riwayati)
Tafsir Bi Al-Ma’thur atau Tafsir Riwayati adalah metode penafsiran yang berdasarkan pada transmisi teks atau hadis dari Nabi Muhammad SAW, sahabat Nabi, dan generasi awal umat Islam (tabi’i). Metode ini dianut oleh kelompok Ahl al-Hadith dan berkembang pesat pada masa Daulah Abbasiyah. Penafsirannya didasarkan pada pemikiran bahwa pengetahuan tentang makna Al-Quran hanya dapat didapat melalui penjelasan dari Nabi dan orang-orang yang hidup di zamannya.
Tafsir Bi Al-Ma’thur memberikan tafsir yang akurat dan otentik, sebab berlandaskan langsung pada sumber primer dalam Islam. Namun, metode ini mungkin kurang fleksibel dalam menghadapi tantangan dan perubahan sosial budaya di masa depan, karena keterbatasannya dalam penafsiran berdasarkan konteks masa kini.
2. Tafsir Bi Al-Ra’yi (Tafsir Akal)
Sebagai metode tafsir yang kontras, Tafsir Bi Al-Ra’yi atau Tafsir Akal adalah penafsiran yang menggunakan akal dan pendapat pribadi dari mufasir (penafsir Al-Quran). Metode ini muncul sebagai respon terhadap keadaan sosial, politik, dan intelektual di era Abbasiyah dan dianut oleh kelompok Mu’tazilah dan beberapa Ahli Kalam.
Dalam metode Tafsir Bi Al-Ra’yi, mufasir memiliki kebebasan yang lebih besar dalam menginterpretasikan ayat Al-Quran. Ini mencakup penafsiran yang lebih mendalam dari makna-makna filosofis, etis, dan spiritual teks. Meski demikian, metode ini juga menghadapi kritikan karena dianggap bisa membingungkan bagi pembaca dan berpotensi menyimpang dari pemahaman asli teks Al-Quran.
Penutup
Masa Daulah Abbasiyah memperlihatkan bagaimana masyarakat berusaha menyampaikan dan merenungkan makna Al-Quran dengan berbagai metode. Baik Tafsir Bi Al-Ma’thur maupun Tafsir Bi Al-Ra’yi memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Kedua metode ini mencerminkan bagaimana umat Islam selalu berusaha untuk memahami dan menerapkan Al-Quran dalam berbagai konteks dan situasi.
Pada akhirnya, penggunaan kedua metode ini, atau bahkan kombinasi dari keduanya, masih relevan sampai hari ini dalam upaya memahami dan menerapkan ajaran Al-Quran dalam konteks kehidupan kita sekarang.