Sepanjang sejarahnya, Indonesia telah mengalami berbagai penjajahan oleh bangsa-bangsa Barat. Mulai dari penjajahan Portugis, Belanda, hingga Inggris, selama ratusan tahun bangsa Indonesia terus berjuang untuk memperoleh kemerdekaannya. Saat membahas masa penjajahan bangsa Barat di Indonesia, salah satu aspek yang sering mendapatkan sorotan adalah kehidupan diskriminatif yang dialami oleh masyarakat lokal. Dalam artikel ini, kita akan memeriksanya lebih lanjut dan memahami betapa mendalam dampak diskriminasi tersebut.
Diskriminasi Sosial dan Ekonomi
Dalam masa penjajahan, bangsa Barat mendiskriminasikan masyarakat lokal di berbagai bidang, antara lain: sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Contoh paling nyata yang menunjukkan diskriminasi sosial dan ekonomi adalah sistem pangkat (stand atau klasse) yang mereka terapkan. Pada masa penjajahan Belanda, misalnya, masyarakat dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan ras dan jabatan: Eropa, Timur Asing, dan Pribumi.
Golongan Eropa selalu dianggap berada di tingkat tertinggi, sedangkan Pribumi berada di posisi terbawah. Posisi ini memberi mereka hak istimewa yang mengeksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja lokal, serta mengendalikan kekayaan ekonomi. Hal ini membuat masyarakat lokal tertekan, baik dari segi material maupun hak-hak politik.
Diskriminasi dalam Pendidikan
Pendidikan juga menjadi sumber diskriminasi pada masa penjajahan. Bayangkan, pada masa ini hanya ada tiga jenis sekolah: “Eropesche Lagere School” (ELS) untuk anak-anak Eropa, “Hollandsch-Inlandsche School” (HIS) untuk anak-anak Pribumi yang ingin belajar bahasa Belanda, dan “Sekolah Desa” (volksschool) untuk anak-anak Pribumi dengan kurikulum terbatas. Wow! Bahkan dalam pendidikan, diskriminasi sangat kentara, bukan?
Bukan tanpa alasan, sistem pendidikan seperti ini diciptakan untuk menjaga stabilitas kekuasaan kolonial. Anak-anak Pribumi dibatasi akses informasi dan pengetahuan agar mereka tidak bisa melawan penindasan bangsa penjajah.
Pelepasan Budaya
Selain diskriminasi sosial, ekonomi, dan pendidikan, pelecehan terhadap budaya setempat juga sangat kentara. Bangsa penjajah mencoba menggantikan budaya, adat, dan bahasa lokal dengan kebudayaan mereka sendiri. Bahasa Belanda diberlakukan sebagai bahasa resmi dan diwajibkan dalam semua aspek pemerintahan.
Namun, perjuangan bangsa Indonesia tidak pernah surut. Berbagai perlawanan dan kesadaran akan pentingnya menjaga identitas nasional menjadi semangat bagi pejuang kemerdekaan dalam melawan penjajahan dan diskriminasi.
Kesimpulan
Kehidupan diskriminatif pada masa penjajahan bangsa barat di Indonesia memang sangat menyakitkan. Pembagian hak berdasarkan ras, eksploitasi ekonomi, pengendalian akses pendidikan serta pelecehan terhadap budaya lokal adalah kenyataan pahit yang harus diterima oleh penduduk Indonesia pada masa itu. Namun, mengingat sejarah ini juga penting agar kita tidak melupakan perjuangan dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang telah berjuang mati-matian untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan.