Coaching merupakan seni yang membutuhkan keseimbangan detil – kombinasi intuition kuat, pengetahuan yang mendalam, komunikasi yang efektif dan pendekatan yang tepat; semuanya bermuara pada tujuan utama memaksimalkan potensi individu. Dalam konteks coaching anak, relevansi memberikan dan memaksakan pendapat kita menjadi aspek kunci yang dapat mempengaruhi kualitas dan efektivitas proses tersebut. Kita harus memahami bahwa sebagai coach, kita bukan hanya mendidik, tetapi juga membimbing anak untuk membangun keterampilan mereka dalam berpikir kritis dan membuat keputusan yang baik.
Meruntuhkan Batasan konvensional Coaching
Jika kita mengikuti definisi coaching konvensional, kita mungkin berpikir bahwa kita tidak boleh mendorong pendapat kita terhadap anak-anak. Dalam setting yang ideal, kita seharusnya membimbing mereka untuk menemukan jawaban mereka sendiri. Tetapi apakah ini selalu kasusnya?
Terkadang, coaching membutuhkan lebih dari sekadar mengajukan pertanyaan terbuka dan mendengarkan. Terkadang, kita harus berani memberikan sudut pandang, opini, dan bahkan memaksakan pendapat kita – semua demi membantu anak-anak untuk mengembangkan dirinya.
Kapan memberikan dan memaksakan Pendapat?
Walaupun memaksakan pendapat bisa terdengar keras, ini tidak berarti ‘mengendalikan’ seorang anak. Sebagai coach, kita harus menghormati proses belajar anak, memberikan mereka kebebasan untuk mengekspresikan diri mereka dan memiliki rasa kepemilikan atas proses pertumbuhan mereka sendiri.
Namun, ada saatnya dimana kita perlu memberikan panduan yang lebih jelas – saat anak merasa tersesat atau terjebak dalam pemikiran negatif, saat mereka menghadapi hambatan yang sangat besar, atau saat mereka tidak mampu melihat penyelesaian cerdas yang jaraknya hanya satu langkah. Itulah saatnya kita memaksakan pendapat kita sedikit, dengan harapan dapat membantu mereka membuka berbagai perspektif baru dan menemukan solusi yang efektif.
Menyajikan Pendapat dengan Elegan
Dalam coaching anak, cara penyampaian pendapat adalah hal yang sangat penting dan harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Kita perlu menunjukkan empati dan pengetahuan yang mendalam tentang masalah yang kita diskusikan.
Memberikan pendapat harus berawal dari rasa pengertian yang tulus, diikuti oleh pertanyaan yang diarahkan untuk membuka pembicaraan dan diskusi. Kita perlu memastikan bahwa anak merasa aman dan nyaman dalam membahas masalah atau tantangan yang mereka hadapi.
Identifikasi perspektif mereka – lihatlah dunia melalui mata mereka, dan dari sana, sampaikanlah pendapat kalian dengan cara yang baik dan benar – ini bukan memaksakan, tapi lebih kepada menyajikan solusi alternatif bagi banyak kemungkinan trek yang mungkin bisa mereka pilih.
Kesimpulan
Coaching bukanlah seni yang pasti yang mengikuti blueprint yang sama untuk setiap anak. Setiap anak adalah individu unik dengan kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Karena ini, penting bagi kita para coach untuk memahami dan menyesuaikan pendekatan kita, kadang memaksakan pendapat kami ketika diperlukan, untuk sepenuhnya membantu dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.