Sejarah Asia Tenggara tidak dapat lepas dari dinamika kerajaan-kerajaan Nusantara dan kerumitan batas wilayahnya. Diantara banyak sengketa batas di kawasan ini, salah satu yang sering menjadi sorotan adalah sengketa batas wilayah antara Indonesia dan Malaysia. Di balik sengketa tersebut, ada akar sejarah yang panjang dan rumit. Pakah itu? Mari kita telaah lebih dalam.
Akar Sejarah Sengketa Batas Wilayah
Sebelum eksistensi Indonesia dan Malaysia sebagai negara modern, daratan dan pulau-pulau di kawasan ini merupakan bagian dari beragam kerajaan yang saling berinteraksi. Banyak dari kerajaan ini memiliki hubungan dinasti dan politik yang kompleks, termasuk Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Malaka, yang wilayahnya sering kali tumpang tindih.
Permintaan klaim terhadap sama satunya wilayah telah menjadi sumber konflik sejak zaman kolonial. Salah satu contoh paling mencolok adalah sengketa wilayah di Borneo antara Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dan Inggris (atas nama Federasi Malaya, kemudian Malaysia).
Kasus Ambalat
Salah satu kasus kontroversial dalam sejarah sengketa batas Indonesia-Malaysia adalah kasus Ambalat. Ambalat adalah wilayah maritim yang terletak di Laut Sulawesi (atau juga dikenal dengan Laut Celebes). Pada tahun 2005, hubungan antara Indonesia dan Malaysia menjadi tegang seiring munculnya klaim teritorial oleh kedua negara terhadap wilayah ini.
Kedua negara merujuk pada sejarah dan hukum internasional untuk membenarkan klaim mereka. Indonesia mempertahankan klaimnya berdasarkan pada sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, terutama pertalian historis dengan Kerajaan Kutai dan Sulu. Sementara Malaysia merujuk ke perjanjian-perjanjian dengan penjajah Inggris dan sejarah Federasi Malaya.
Resolusi dan Masa Depan
Itulah akar sejarah konflik batas antara Indonesia dan Malaysia. Arus sejarah ini telah membentuk batas-batas geografis dan politik sebagai mana yang kita kenal sekarang. Meski demikian, sejarah juga mengajarkan kita bahwa melalui dialog dan kerjasama, negara-negara ini berpotensi untuk menyelesaikan sengketa mereka secara damai.
Sejarah sengketa batas antara Indonesia dan Malaysia patut dijadikan pelajaran bagi kita semua. Dalam era globalisasi, dimana hubungan antar negara semakin intens dan kompleks, penting bagi kita untuk selalu menghargai sejarah dan kedaulatan sebuah negara. Dengan demikian, kita dapat menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.
Penutup
Akhir kata, mari kita mencoba untuk memahami dan menghargai sejarah dan kedaulatan masing-masing negara. Dengan begitu, kita dapat menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis di Asia Tenggara dan dunia.
Referensi
- Suryadinata, Leo (2004). Nationalism and Globalization: East and West. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 9789812302349.
- Simanjuntak, P.H.H (2008). Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan Sampai Reformasi (in Indonesian). Djambatan. pp. 350–351. ISBN 978-979-428-499-5.
- Acharya, Amitav (2001). Constructing a Security Community in Southeast Asia: ASEAN and the Problem of Regional Order. Psychology Press. ISBN 9780415247426.