Mekanisme Pembentukan Otot Akibat Mengangkat Beban Berat Secara Rutin

Siapapun yang pernah berlatih dengan beban berat, seperti angkat berat atau latihan intensitas tinggi lainnya, mungkin telah mengalami hipertrofi otot. Hipertrofi adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan dan peningkatan ukuran sel-sel tubuh. Secara khusus, hipertrofi otot adalah peningkatan volume sel otot yang dicapai melalui latihan fisik.

Fase 1: Kerusakan Otot

Proses pembentukan otot dimulai dengan kerusakan otot mikroskopis. Ketika kita mengangkat beban berat, serat otot kita mengalami kerusakan kecil yang dikenal sebagai mikrotrauma. Ini mencakup kerusakan pada protein otot dan sel otot memerlukan perbaikan.

Fase 2: Perbaikan dan Penyembuhan

Proses selanjutnya adalah perbaikan dan penyembuhan, dimana kerusakan ini memicu respons inflamasi, mengirimkan sinyal ke sel-sel sistem kekebalan tubuh, seperti makrofag, untuk membersihkan reruntuhan dan merangsang proses penyembuhan. Selama proses ini, hormon pertumbuhan dan faktor pertumbuhan seperti Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) dilepaskan, yang membantu dalam pembentukan protein otot.

Fase 3: Sintesis Protein

Dalam sintesis protein, sel-sel otot menciptakan rantai polipeptida baru untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh latihan. Sintesis protein ini melibatkan penggabungan asam amino menjadi protein baru. Ketika sintesis protein otot melebihi tingkat pemecahan protein otot, hypertrophy terjadi.

Fase 4: Hipertrofi

Stimulus ini menarik lebih banyak nukleus ke dalam serat otot, yang membantu dalam sintesis protein, yang pada gilirannya meningkatkan jumlah dan ukuran miofibril – komponen kontraktil dari sel otot. Akibatnya, serat otot menjadi lebih besar dan lebih kuat.

Melalui serangkaian proses ini, otot tumbuh dan menjadi lebih kuat sebagai respons terhadap stimulus pengangkatan beban berat. Namun, perlu diingat bahwa nutrisi yang tepat dan istirahat yang cukup juga sangat penting untuk mendukung proses ini dan memaksimalkan pertumbuhan otot.

Referensi

  • Nedergaard, A., Vissing, K., Overgaard, K., Kjaer, M., & Schjerling, P. (2007). Expression patterns of muscle specific microRNA in endurance and resistance exercise. Physiological genomics, 38-48.
  • Willoughby, D. S., & Taylor, L. (2004). Effects of sequential bouts of resistance exercise on androgen receptor expression. Medicine and science in sports and exercise, 1499-1506.

Leave a Comment