Interaksi sosial merupakan proses dimana individu berkomunikasi dan saling mempengaruhi satu sama lain secara langsung atau tidak langsung. Bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif merujuk pada pergaulan yang mengandung unsur kebersamaan, kerjasama, dan proses pembentukan kelompok sosial. Akan tetapi, tidak semua interaksi sosial bersifat asosiatif. Berikut adalah beberapa hal yang bukan merupakan bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif.
Pertama: Kekerasan
Kekerasan melibatkan tindakan yang mengandung unsur paksaan, ancaman, atau bahkan perusakan bahaya terhadap pihak lain. Bentuk kekerasan ini bisa meliputi kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis. Contoh konkritnya seperti penganiayaan, pelecehan seksual, perundungan atau bullying. Kekerasan mencerminkan hubungan semu yang tidak sehat dan tidak menciptakan suasana kebersamaan.
Kedua: Diskriminasi
Diskriminasi terjadi ketika seseorang atau kelompok tertentu diperlakukan dengan cara yang tidak adil atau tidak sama karena atribut-atribut tertentu seperti ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau kondisi sosial-ekonomi. Diskriminasi ini mencerminkan ketidakadilan dan eksklusivitas dalam interaksi sosial. Hal ini jelas bukan bentuk interaksi yang bersifat asosiatif.
Ketiga: Persaingan yang Tidak Sehat
Persaingan memang terkadang diperlukan dalam kehidupan sosial untuk menghasilkan kemajuan dan mencapai tujuan yang lebih baik. Namun, ketika persaingan menjadi tidak sehat, hal ini bisa mengakibatkan permusuhan dan perselisihan antar pihak yang terlibat. Persaingan yang tidak sehat memicu konflik dan ketidakharmonisan dalam interaksi sosial.
Keempat: Individualisme
Individualisme adalah suatu pandangan yang menekankan pada kepentingan diri sendiri tanpa terlalu memperhatikan kepentingan orang lain. Sikap individualisme ini bukan berarti seseorang tidak bisa berinteraksi secara sosial, namun terkadang dapat menghambat terbentuknya interaksi yang bersifat asosiatif. Dalam kondisi yang ekstrim, individualisme bisa menimbulkan egoisme dan membuat seseorang terisolasi.
Kelima: Stereotipe dan Prasangka
Stereotipe adalah pemikiran yang menggeneralisasi sifat-sifat negatif atau positif pada suatu kelompok sosial berdasarkan asumsi yang tidak didasarkan pada fakta atau pengalaman konkret. Prasangka adalah sikap negatif atau pre-judgement terhadap seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan stereotipe. Kedua hal ini menghambat interaksi sosial yang sehat dan inklusif.
Sebagai kesimpulan, interaksi sosial yang bersifat non-asosiatif mencakup satu atau beberapa hal di atas yang menimbulkan konflik, ketidakadilan, dan ketidakharmonisan dalam hubungan antar manusia. Untuk itu, perlu ditekankan pentingnya membangun interaksi sosial yang inklusif dan harmonis dengan saling menghormati keberagaman dan menciptakan suasana kebersamaan.