Sebuah berita mencengangkan datang dari kota Surabaya, tempat tempuh studi Universitas Airlangga (Unair), salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Seorang mahasiswa ditemukan tewas dalam sebuah mobil, meninggalkan sebuah surat wasiat berbahasa Inggris yang membingungkan banyak orang.
Penemuan Tragis
Hari biasa dipotong drastis oleh penemuan tragis seorang mahasiswa Unair yang ditemukan tewas dalam mobilnya. Individu tersebut, yang identitasnya usai dijaga untuk menghormati privasi keluarganya, diketahui sedang menjalani studi tingkat akhir. Penyebab kematian belum sepenuhnya diungkap, namun otoritas telah mengkonfirmasi bahwa tidak ada bukti tindakan kriminal.
Surat Wasiat yang Membingungkan
Bagian yang paling membingungkan dari tragedi ini adalah penemuan sebuah surat wasiat. Surat tersebut ditemukan di lokasi, tertulis dengan tangan almarhum menggunakan Bahasa Inggris. Fakta ini menambah misteri seputar insiden ini, mengingat kebanyakan warga lokal biasa menggunakan Indonesia dalam komunikasi sehari-hari.
Penggunaan Bahasa Inggris dalam surat tersebut bisa jadi menunjukkan bagaimana si penulis mempercayai bahwa pesan yang mereka tuliskan akan dibaca oleh pendengar yang lebih luas. Meskipun demikian, pesan di dalam surat tersebut masih menjadi subyek investigasi yang berkelanjutan dan belum dapat dibuka ke publik.
Implikasi dan Dampak
Insiden tragis ini telah menimbulkan gelombang kekecewaan, kebingungan, dan dukacita dalam komunitas Unair dan masyarakat setempat. Kehilangan seorang mahasiswa, siapa pun dia, mematikan dan meremehkan potensi luar biasa yang belum sepenuhnya tergali.
Peristiwa ini juga telah memicu diskusi mendalam tentang kesejahteraan mental mahasiswa. Stigma tentang masalah kesehatan mental di Indonesia masih tinggi dan peristiwa menyedihkan seperti ini hanya menambahkan darurat tersembunyi yang saat ini kita hadapi.
Membangun Kesadaran
Dalam merespon tragedi ini, seharusnya kita semua bertekad untuk memprioritaskan kesejahteraan psikologis kita sendiri dan orang lain. Tak heran jika studi dan kehidupan selama kuliah, meskipun memacu banyak pengalaman berharga dan pembentukan karakter, ini juga bisa membawa tekanan dan stres yang sering kali cukup berat untuk dihadapi.
Unair, seperti semua institusi pendidikan, harus terus bekerja keras untuk memberikan dukungan yang diperlukan bagi mahasiswanya, baik dalam hal akademik maupun kesejahteraan psikologis. Kehilangan ini harus menjadi pelecut bagi kita semua, sebagai individu dan masyarakat, untuk berupaya lebih keras lagi dalam memahami dan bertanggung jawab over kesehatan mental.
Kepergian tragis mahasiswa ini tentu sangat dirasakan, dan membuat kita semua menyesali potensi yang belum terwujud. Semua harapan kita tertuju pada keluarga dan teman-teman mereka saat ini; semoga mereka dapat menemukan kekuatan dalam menghadapi masa yang sangat sulit ini.