Kondisi mental masyarakat yang apatis, tidak mau merubah keadaan, pasrah terhadap nasib, sangat menguntungkan pemerintahan bani umayyah, sehingga saat itu ada beberapa mutakallimin yang berusaha membangitkan semangat untuk merubah keadaan. Pada akhirnya, pemikiran para mutakallimin ini dirumuskan dalam suatu ajaran yang dikenal dengan pemikiran…

Saat kita mempertimbangkan era Bani Umayyah, kita melihat sebuah masyarakat yang dalam banyak hal mungkin tampak pasif atau apatis terhadap keadaannya. Ketidakpuasan tersembunyi, namun tidak ada perlawanan terang-terangan atau usaha untuk merubah keadaan. Sebaliknya, tampaknya masyarakat pada umumnya menerima nasib mereka dengan pasrah. Ini merupakan situasi yang menguntungkan pemerintahan Bani Umayyah, yang mampu memerintah tanpa perlawanan yang signifikan.

Meskipun begitu, tidak semua orang menerima kondisi ini begitu saja. Ada sejumlah mutakallimin, atau penafsir dan pemikir Islam, yang berusaha membangkitkan semangat untuk merubah keadaan. Mereka melihat kondisi mental masyarakat di sekitar mereka dan merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Pemikiran-pemikiran mereka akhirnya dirumuskan dalam suatu ajaran.

Tetapi apa sebenarnya pemikiran tersebut? Sebuah konsep penting dalam pemikiran mereka adalah ide bahwa perubahan memang mungkin, dan bahwa individu memiliki peran dalam menggerakkannya. Mereka mendorong masyarakat untuk tidak hanya menerima nasib mereka, tetapi untuk berusaha dan menciptakan nasib mereka sendiri.

Inilah paradoks yang ditemui oleh Bani Umayyah. Di satu sisi, kondisi mental masyarakat yang pasrah terhadap nasib mereka memudahkan pemerintahan. Di sisi lain, ada juga mereka yang mendorong perubahan dan menggugah semangat masyarakat.

Peran mutakallimin ini sangat penting, karena tanpa mereka masyarakat mungkin akan terus berada dalam keadaan apatis dan menerima nasib mereka tanpa perlawanan. Dengan kata lain, mereka adalah katalisator untuk perubahan, dan melalui pemikiran dan tindakan mereka, sejarah mungkin berjalan dengan cara yang sangat berbeda.

Leave a Comment