Profil kenabian selalu menjadi batu pijakan dan teladan bagi umat manusia dalam menjalani berbagai dinamika kehidupan. Dalam kisah Nabi Yusuf, kita bisa melihat berbagai sifat mulia dan bagaimana beliau menjaga akhlak di tengah tantangan pahit di dalam hidupnya. Salah satu bagian kisah yang paling penting dan memukau adalah bagaimana sikap Nabi Yusuf ketika saudara-saudaranya dan ayahnya datang ke istana.
Latar Belakang Kisah
Untuk memahami konteks dari tingkah laku Nabi Yusuf, kita harus mengingat kembali kisahnya. Dikenal untuk keindahan dan kebijaksanaannya, Nabi Yusuf pernah dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri yang cemburu, yang membuangnya ke sumur dan kemudian dijual sebagai budak. Meskipun mengalami banyak cobaan dan percobaan, Nabi Yusuf mampu mempertahankan imannya dan akhirnya menjadi orang penting di istana Firaun.
Kedatangan Saudara-saudara dan Ayah Nabi Yusuf
Waktu berlalu dan keadaan berubah, saat raja mengalami mimpi yang tidak bisa diartikan oleh para menterinya, Nabi Yusuf lah yang berhasil menafsirkannya dan mendapatkan posisi yang tinggi di kerajaan. Pada suatu hari, saudara-saudaranya datang kepadanya untuk meminta bantuan karena negeri mereka dilanda kelaparan. Mereka tidak mengenali Nabi Yusuf, tetapi Nabi Yusuf mengenali mereka.
Sikap Nabi Yusuf
Meskipun persoalan pahit di masa lalu, Nabi Yusuf tidak menyikapi mereka dengan dendam atau amarah. Sebaliknya, beliau menyambut mereka dengan sikap terbuka dan pengertian. Inilah saat emosi dan kebijaksanaan Nabi Yusuf terbukti. Beliau memanfaatkan momen ini tidak untuk balas dendam, tetapi untuk menjalankan keadilan.
Nabi Yusuf kemudian meminta mereka untuk membawa ayah mereka, Nabi Ya’kub, yang telah dia rindukan berlama-lama. Saat mereka kembali dengan Nabi Ya’kub, Nabi Yusuf menyambut mereka dengan kasih sayang dan pengampunan. Beliau memulihkan penglihatan ayahnya yang hilang dan kemudian mengakui identitasnya kepada keluarganya.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
Dari kisah ini, kita belajar bahwa mengampuni dan melupakan masa lalu adalah sikap mulia yang harus dimiliki oleh setiap individu. Lebih dari itu, Nabi Yusuf mengajarkan kita untuk selalu bersikap adil, hati-hati dalam menimbang baik dan buruk, serta tidak mudah terbawa emosi. Sikapnya ketika saudara-saudaranya dan ayahnya datang ke istana adalah personifikasi dari pengampunan, keadilan dan kasih sayang.
Kita perlu menerapkan pelajaran ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan bukan hanya dalam situasi ekstrem, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti dalam berbicara dengan orang lain, dalam menilai orang lain, dan dalam menjawab ketidakadilan. Hal ini akan membuat kita menjadi lebih baik dan beradab, mirip dengan Nabi Yusuf.
Menutup, kita seharusnya menggunakan cerita Nabi Yusuf sebagai teladan dalam menyikapi masalah kita dan dalam menjalin hubungan dengan manusia lainnya. Karena dengan melakukan itu, kita tidak hanya menghormati Nabi Yusuf, tetapi juga menghormati prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai agama yang beliau ajarkan kepada kita.