Perlawanan terhadap penjajah telah menjadi bagian integral dari sejarah bangsa Indonesia. Dalam ulasan ini, kita akan mengulas tentang perlawanan rakyat Mataram terhadap VOC sebanyak 2 kali yang dipimpin oleh Sultan. Kolonialisasi Belanda melalui VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberadaan kerajaan-kerajaan di Nusantara, termasuk Kerajaan Mataram.
Zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645)
Perlawanan pertama terhadap VOC dipimpin oleh Sultan Mataram ke-3, Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sultan Agung memiliki cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara, termasuk mengusir kekuatan Eropa yang diwakili oleh VOC. Perlawanan pertama terjadi di awal masa pemerintahan Sultan Agung, dimana ia mencoba menaklukkan wilayah-wilayah strategis untuk meningkatkan pengaruh dan kekuasaannya.
Salah satu pertempuran terbesar dalam perlawanan ini adalah serangan terhadap Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1628 dan 1629. Batavia merupakan pusat kekuatan VOC, dan pengambilalihan wilayah ini akan menjadi pukulan besar bagi keberlangsungan organisasi tersebut. Sayangnya, serangan-serangan ini tidak pernah berhasil mengalahkan VOC, dan malah menjadi bumerang. Pasukan Sultan Agung kewalahan by menghadapi banyaknya pertahanan dan penyakit seperti wabah malaria, yang menyerang pasukannya.
Zaman Sultan Amangkurat IV (1755-1757)
Perlawanan kedua terjadi di era pemerintahan Sultan Mataram yang lebih muda, yakni Sultan Amangkurat IV. Ia memimpin Kerajaan Mataram untuk kembali melawan VOC setelah perjanjian Bongaya (bugaraya) yang menguntungkan pihak VOC pada tahun 1754. Perjanjian tersebut menyebabkan kerugian besar bagi Kerajaan Mataram dan menurunkan otoritas kerajaan.
Sultan Amangkurat IV membangun aliansi dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, seperti Kerajaan Johor dan Kerajaan Jambi serta bantuan dari Eropa yang diwakili Perancis. Sayangnya, perlawanannya pada akhirnya tidak mampu menggulingkan VOC dan wilayah kerajaan Mataram sempat menjadi semakin terpecah-pecah.
Meskipun kedua perlawanan ini tidak mampu menghapuskan keberadaan VOC, mereka telah memberi inspirasi kepada rakyat Indonesia untuk melanjutkan perjuangan melawan penjajahan. Perlawanan Sultan Agung Hanyakrakusuma dan Sultan Amangkurat IV bukanlah sia-sia dan menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya dalam mengusir penjajah dari Nusantara.