Karya sastra Nusantara, khususnya hikayat, merupakan salah satu warisan budaya yang tak terhingga kekayaannya. Selama berabad-abad, hikayat telah menjadi medium sastra yang banyak digunakan untuk menyampaikan cerita, nilai moral, sejarah, hingga filsafat. Uniknya, dalam penulisan hikayat ditemukan banyak kata yang sudah jarang digunakan pada zaman sekarang, bahkan cenderung terlupakan. Penggunaan kata-kata arkais ini memberikan ciri khas dan pesona tersendiri pada hikayat. Pada kesempatan ini, kita akan membahas beberapa kata arkais yang banyak terdapat dalam hikayat, kecuali beberapa yang mungkin masih cukup familiar di telinga kita.
Kata Arkais dalam Hikayat
Berikut ini adalah beberapa contoh kata arkais yang sering ditemui dalam hikayat:
- Amat: Merupakan sinonim dari ‘sangat’ atau ‘sekali’.
- Baginda: Sebuah ungkapan hormat yang digunakan untuk menyebut seorang raja atau pemimpin.
- Daulat: Sering digunakan dalam konteks kekuasaan dan kedaulatan, biasanya dalam rangka mendoakan atau menghormati seorang pemimpin.
- Hayat: Merupakan sinonim dari ‘hidup’ atau ‘kehidupan’.
- Malim: Menyatakan seorang ahli atau yang memiliki keahlian dalam ilmu pengetahuan dan keagamaan.
- Sampeyan: Sebuah kata panggilan yang sangat sopan, biasanya ditujukan kepada orang yang lebih tua atau berpangkat tinggi.
Kata yang Tidak Termasuk Arkais dalam Hikayat
Walaupun hikayat banyak menggunakan kata-kata arkais, ada juga beberapa kata yang terlihat seperti arkais namun sebenarnya masih cukup dikenal dan digunakan. Berikut ini adalah beberapa contoh kata tersebut:
- Ulama: Kata ini merupakan sebutan bagi orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam ilmu agama, terutama dalam konteks Islam. Kata ulama masih sering digunakan pada masa kini, baik dalam konteks keagamaan atau keilmuan.
- Pustaka: Kata ini adalah sinonim dari ‘buku’ atau ‘karya tulis’, yang pada konteks hikayat mungkin digunakan untuk merujuk pada naskah sastra yang ditulis. Kata pustaka masih cukup dikenal dan digunakan dalam Bahasa Indonesia sekarang.
- Gelar: Berarti ‘titel’ atau ‘pangkat’, seperti yang umum digunakan dalam referensi kepada bangsawan atau tokoh penting dalam hikayat. Gelar masih kerap digunakan dalam bahasa sehari-hari, khususnya dalam bahasan yang berkaitan dengan kedudukan sosial atau jabatan.
Meskipun sebagian besar kata arkais tidak lagi umum digunakan, penting untuk mengenal dan memahami maknanya. Dengan begitu, kita dapat semakin menghargai dan memahami kekayaan karya sastra nusantara, termasuk hikayat. Di balik kata-kata arkais tersebut, tersimpan berbagai makna dan pesan yang mungkin akan membantu kita memahami sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang dihargai oleh masyarakat pada masa lalu.