Setelah Dr. Sun Yat-sen Wafat, Pergerakan Nasionalisme di Tiongkok Digantikan oleh

Dalam sejarah dunia, pergerakan nasionalisme telah berperan sangat penting dalam membentuk identitas suatu negara. Di Tiongkok, pergerakan nasionalisme ini semakin kuat setelah kejatuhannya karena opium oleh penjajah asing. Tokoh terkenal yang memimpin pergerakan nasionalisme di Tiongkok adalah Dr. Sun Yat-sen, yang bahkan menjadi bapak pendiri Republik Tiongkok (Taiwan). Namun, setelah wafatnya Dr. Sun Yat-sen pada tahun 1925, ada banyak perubahan yang terjadi dalam pergerakan nasionalisme di Tiongkok.

Kudeta oleh Chiang Kai-shek dan Kuomintang

Tak lama setelah wafatnya Dr. Sun Yat-sen, Chiang Kai-shek, seorang jenderal dalam Kuomintang (KMT), mengambil alih kepemimpinan partai tersebut dan menggantikan pergerakan nasionalisme yang dipimpin oleh Sun Yat-sen. Dia menggagas kudeta pada tahun 1926 untuk menggulingkan pemerintahan komunis, kemudian membangun pemerintahan yang dikenal sebagai “Republik Tiongkok” yang didasarkan pada ideologi kediktatoran militer dengan berlandaskan “Tiga Prinsip Rakyat” Sun Yat-sen.

Perang Tiongkok-Jepang Kedua dan Nasionalisme yang Tidak Stabil

Masa pemerintahan Kuomintang diwarnai oleh banyak kelelahan dan masalah besar. Pada tahun 1937, Tiongkok terlibat dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua yang juga dikenal sebagai Perang Sino-Jepang atau Perang Dunia II di Asia Timur. Perang ini membuat nasionalisme di Tiongkok semakin tidak stabil dan menambah beban berat pada pemerintahan Kuomintang. Kekalahan demi kekalahan yang diterima Tiongkok akibat serangan Jepang semakin banyak menelan korban hingga sekitar 20 juta jiwa.

Komunisme yang Menanjak dan Pemerintahan Mao Zedong

Pergerakan komunisme yang kembali menanjak saat itu menjadikan Tiongkok sebuah ladang pertarungan antara dua kekuatan militer. Dengan pergerakan para pejuang seperti Mao Zedong, pada tahun 1949, hasil dari Revolusi Komunis menghasilkan terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Pemerintahan Mao Zedong menggantikan nasionalisme Kuomintang dan mengajak Tiongkok pada ajaran Marxisme-Leninisme.

Perubahan dalam Pergerakan Nasionalisme Tiongkok

Setelah terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok, nasionalisme yang dulu digalang oleh Dr. Sun Yat-sen maupun oleh Kuomintang seolah-olah terpinggirkan. Dibawah kepemimpinan Mao Zedong, pemerintahan komunis di Tiongkok mulai mengambil kebijakan radikal dalam hal pembaruan sosial, seperti Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Budaya. Disisi lain, Tiongkok yang dulu kolonial dalam nasionalisme perlahan terkikis seiring perkembangan ideologi komunis yang lebih menonjol.

Sebagai kesimpulan, pergerakan nasionalisme di Tiongkok mengalami banyak perubahan setelah wafatnya Dr. Sun Yat-sen. Mulai dari kepemimpinan Kuomintang oleh Chiang Kai-shek, Perang Tiongkok-Jepang Kedua, hingga munculnya komunisme dan pemerintahan Mao Zedong. Tiongkok memiliki sejarah yang panjang dan dinamis saat membahas pergerakan nasionalisme yang telah membentuk identitas negara tersebut.

Leave a Comment