Dalam setiap diskusi tentang pendidikan, topik ketimpangan tidak pernah absen. Dari kurun waktu ke kurun waktu, kita mungkin telah merasa tergelitik oleh pertanyaan mendalam: “Kenapa ketimpangan dalam pendidikan masih merajalela?” Saat mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi ketimpangan ini, ada satu faktor tersendiri yang mungkin terkena salahkan tapi sebenarnya tidak memiliki pengaruh yang banyak sebagai dugaan umum, yaitu faktor individu.
Membedah Faktor Penyebab Ketimpangan Pendidikan
Ketimpangan dalam pendidikan sering kali dilihat sebagai hasil dari perbedaan pendapatan dan status sosial ekonomi. Faktanya, penelitian yang dilakukan oleh organisasi internasional seperti UNESCO dan OECD menunjukkan keterkaitan yang kuat antara status sosial ekonomi dan capaian akademik. Anak-anak yang berasal dari latar belakang ekonomi yang kurang mampu cenderung memiliki akses yang terbatas terhadap pendidikan berkualitas.
Dalam konteks ini, pendidikan berkualitas merujuk pada kurikulum yang lengkap, lingkungan belajar yang mendorong, dan guru yang berkualitas. Tanpa akses ke sumber daya ini, siswa mungkin akan kesulitan untuk mencapai potensi mereka sepenuhnya di dalam atau di luar kelas.
Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi ketimpangan pendidikan adalah lingkungan dan budaya keluarga. Ini mencakup nilai-nilai dan sikap terhadap pendidikan yang ditanamkan oleh orang tua dan anggota keluarga lainnya serta lingkungan belajar di rumah.
Faktor Individu – Bukan Penyebab Utama Ketimpangan Pendidikan
Seringkali, faktor individu seperti kemampuan intelektual dan etos kerja dianggap sebagai penyebab utama dari ketimpangan pendidikan. Namun, fakta yang kurang dikenal adalah bahwa faktor individu ini hanya memiliki sedikit pengaruh pada hasil pendidikan siswa dibandingkan faktor lainnya. Seorang siswa yang cerdas dan rajin mungkin akan menghadapi kesulitan untuk berhasil jika dia tidak memiliki akses ke pendidikan berkualitas atau mendukung lingkungan belajar.
Hal ini menunjukkan bahwa solusi untuk mengatasi ketimpangan pendidikan bukanlah membinakan siswa untuk “bekerja lebih keras” atau “menjadi lebih pintar”. Sebaliknya, solusi harus berfokus pada pembangunan sistem pendidikan yang adil dan inklusif yang menawarkan akses equal terhadap pendidikan berkualitas untuk semua siswa, terlepas dari latar belakang ekonomi mereka.
Kesimpulan
Melihat dari segi faktor yang mempengaruhi ketimpangan pendidikan, menjadi jelas bahwa ada banyak faktor struktural dan sistemik yang bermain di sini. Oleh karena itu, penting untuk merasa empati terhadap perjuangan yang dialami oleh siswa dari latar belakang yang kurang mampu dan membantu mendorong perubahan di tingkat sistem — bukan hanya di tingkat individu.