Dalam perjalanan sejarah dunia, kebudayaan dan sastra memainkan peran penting dalam memahami perkembangan masyarakat, pemikiran, dan evolusi kebudayaan. Hampir di setiap fase sejarah dapat ditemui karya sastra yang sarat makna dan nilai-nilai kehidupan. Tidak terkecuali di era Daulah Umayyah, salah satu kekhalifahan Islam terdahulu yang berada di puncak kejayaannya antara abad ke-7 hingga pertengahan abad ke-8.
Apa itu Daulah Umayyah?
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai karya sastra pada masa Daulah Umayyah, mari kita mengenal sedikit tentang apa dan bagaimana kehidupan pada masa itu. Daulah Umayyah merupakan periode kekhalifahan Islam kedua setelah Khulafa’ur Rasyidin, berpusat di Damsyik, Suriah. Era ini dikenal sebagai periode keemasan dalam sejarah Islam, baik dalam aspek militar, politik, ekonomi, maupun budaya.
Hasil Karya Sastra Pada Masa Daulah Umayyah
Salah satu ciri nan khas pada masa Daulah Umayyah adalah mekarnya kegiatan literasi dan perkembangan seni sastra. Banyak karya sastra terkemuka lahir pada era ini. Salah satu yang amat terkenal dan sering menjadi rujukan adalah puisi Arab karya Al-Farazdaq dan Jarir.
1. Puisi Al-Farazdaq
Al-Farazdaq, atau yang memiliki nama lengkap Hammam bin Ghalib, adalah salah satu penyair jenius pada masa Daulah Umayyah. Beliau sangat populer dengan puisi-puisinya yang penuh dengan sindiran dan kritik sosial. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah “Nuniyyah Al-Farazdaq,” sebuah puisi panjang yang terdiri dari 126 bait. Puisi ini mencerminkan pandangan sosial dan politik beliau, tanpa kehilangan selera humor dan irama indah.
2. Puisi Jarir
Tidak kalah dari Al-Farazdaq, Jarir juga merupakan penyair terkemuka pada era Daulah Umayyah. Nama lengkapnya adalah Jarir bin Atiyah al-Khatfi. Puisinya penuh dengan ungkapan kegigihan, semangat hidup, dan unsur patriotisme. Puisi seperti “al-Khawarizmi” menjadi populer dan banyak dihafal di kalangan masyarakat.
Karya-karya sastra tersebut tidak hanya merepresentasikan kemajuan dan kemakmuran yang dicapai selama era Umayyah, tetapi juga menjadi saluran untuk menyuarakan kritik sosial dan politik. Melalui karya-karya inilah, kita bisa merasakan dan memahami sejarah masa lalu dengan lebih realistis dan empatik.
Menutup tulisan ini, saya berharap kita bisa belajar banyak dari sejarah dan mampu menghargai karya sastra sebagai cerminan masyarakat dan budaya. Sejarah bukanlah seluruhnya tentang peperangan dan politik, tetapi juga tentang bagaimana manusia mengekspresikan pemikiran dan perasaan mereka melalui seni dan literatur.