Puisi merupakan salah satu bentuk sastra lisan maupun tertulis yang memiliki gaya dan struktur tersendiri. Puisi dapat menjadi cerminan dari budaya, kepercayaan, perasaan, dan pandangan hidup suatu masyarakat. Salah satu jenis puisi yang paling mendasar dan dikenal secara luas adalah puisi rakyat. Puisi rakyat adalah puisi yang dikembangkan dan dilestarikan oleh masyarakat yang biasanya disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi. Jenis puisi rakyat yang paling menonjol karena isinya terdiri dari unsur sebab dan akibat adalah pantun.
Pantun
Pantun adalah jenis puisi rakyat yang berasal dari Melayu Nusantara. Struktur pantun terdiri dari empat baris atau disebut “guru”. Yang unik dari pantun adalah gayanya yang berisi ‘sampiran’ dan ‘isi’. Sampiran adalah dua baris pertama yang sifatnya umum dan bebas, sedangkan isi adalah dua baris terakhir yang merupakan pesan atau inti dari pantun tersebut.
Adalah dalam bagian ‘isi’ inilah terdapat unsur sebab akibat. Bagian ini mengandung pesan moral atau nasihat yang seringkali disampaikan dengan cara menunjukkan sebab dan kemudian mengikuti akibatnya sebagai hasil dari sebab tersebut.
Berikut adalah contoh pantun dengan unsur sebab dan akibat:
Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Berbuat baik dapat kenangan
Berbuat jahat dapat celaan
Bagian pertama (anak ayam turun sepuluh, mati satu tinggal sembilan) adalah sampiran, dan bagian kedua (berbuat baik dapat kenangan, berbuat jahat dapat celaan) adalah isi. Dalam bagian isi, terdapat unsur sebab (berbuat baik atau berbuat jahat) dan akibatnya (dapat kenangan atau dapat celaan).
Puisi rakyat seperti pantun ini tetap digunakan sampai sekarang, tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga cara mengajarkan nilai-nilai moral dan norma dalam masyarakat.
Puisi rakyat memang sarat makna dan nilai-nilai, termasuk puisi yang memiliki unsur sebab-akibat seperti pantun. Melalui kata-kata yang indah dan berima, puisi rakyat terus mengalir mengajarkan kita tentang hikmah kehidupan dari generasi ke generasi. Meski metodenya berbeda, pesan akhirnya tetap sama: tindakan kita sekarang akan menentukan hasil di masa depan.