Sultan Agung merupakan salah satu penguasa terpenting dalam sejarah Kerajaan Mataram, yang berkuasa antara tahun 1613 hingga 1645. Ia berhasil memperluas kekuasaan Mataram, menjadikannya sebagai salah satu kekuatan terbesar di Nusantara pada masa itu. Namun, setelah Sultan Agung meninggal dunia, rakyat Mataram justru mengalami penderitaan yang semakin meningkat. Berbagai faktor menjadi penyebab kondisi tersebut, seperti perpecahan di internal kerajaan, konflik dengan VOC serta krisis ekonomi yang melanda wilayah kekuasaan Mataram.
Perpecahan di Internal Kerajaan
Pertama, setelah wafatnya Sultan Agung, Mataram mengalami perpecahan dan ketidakstabilan politik akibat persaingan kekuasaan antara para penerus Sultan Agung. Penerus pertama, Amangkurat I, dikenal karena tindakan kejam yang dilakukannya, sehingga menyebabkan kekurangan dukungan dari rakyat. Selain itu, para pemimpin dari wilayah vazal Mataram juga berusaha merdeka, mengakibatkan timbulnya konflik-konflik baru dan melemahnya kekuatan kerajaan. Akhirnya, konflik kekuasaan di internal kerajaan ini berimbas pada rakyat yang harus menanggung beban perang serta ketidakstabilan politik.
Konflik dengan VOC
Kedua, kerajaan Mataram harus berhadapan dengan kekuatan asing, khususnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur) yang memiliki kepentingan ekonomi di Nusantara. Setelah meninggalnya Sultan Agung, VOC melancarkan perlawanan terhadap Mataram dengan tujuan mengontrol produksi rempah-rempah di Jawa. Pengaruh VOC inilah yang mengakibatkan terjadinya perang-perang berkelanjutan yang memengaruhi rakyat Mataram, baik secara langsung dalam bentuk korban jiwa maupun tidak langsung berupa dampak ekonomi, seperti monopoli perdagangan dan pemiskinan rakyat.
Krisis Ekonomi
Terakhir, kemunduran Mataram di bawah pemerintahan penerus Sultan Agung juga disebabkan oleh krisis ekonomi yang melanda. Perang dan konflik internal serta eksternal menuntut pengeluaran besar dalam bidang militer, menyebabkan dana yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat dan pembangunan malah terbuang sia-sia. Akibatnya, kualitas hidup rakyat menjadi semakin menurun, banyak yang terpaksa hidup dalam kemelaratan dan penderitaan.
Selain itu, tekanan dari VOC terhadap perdagangan di wilayah Mataram juga menyebabkan semakin sulitnya rakyat mencari nafkah. Ketergantungan pada perdagangan dengan VOC mengakibatkan kelangkaan bahan pangan dan barang kebutuhan pokok lainnya, merugikan rakyat secara ekonomi dan menambah penderitaan mereka.
Sebagai kesimpulan, rakyat Mataram semakin menderita setelah Sultan Agung meninggal dikarenakan perpecahan di internal kerajaan, konflik dengan VOC, dan krisis ekonomi yang melanda. Ketiga faktor ini saling berkaitan dan mengakibatkan ketidakstabilan politik dan ekonomi, memaksa rakyat untuk menanggung penderitaan yang semakin meningkat.