Sejarah adalah saksi bagaimana propaganda, seni komunikasi persuasif, berperan penting dalam membentuk pandangan dan peristiwa di dunia. Dari khazanah sejarah kuno, salah satu pribadi yang menonjol dalam seni ini berasal dari wilayah Khurasan, yang waktu itu mencakup bagian-bagian besar dari negara-negara modern Iran, Afghanistan, dan Asia Tengah. Propagandis tersebut adalah Al-Muqanna.
Al-Muqanna – Pemimpin dan Propagandis dari Khurasan
Al-Muqanna, yang secara harfiah berarti “orang berjubah” dalam bahasa Arab, juga dikenal sebagai Hashim ibn Hakim. Dia adalah seorang lider aliran millenarian pada abad ke-8 yang memiliki kepiawaian dalam seni propaganda.
Ledakan pemberontakan terjadi ketika Khurasan berada di bawah kendali Kekaisaran Abbasiyah. Al-Muqanna mengepalai pemberontakan ini, menyebut dirinya sebagai inkarnasi Tuhan, dan berkhotbah bahwa ajarannya adalah jalan menuju kebenaran dan keadilan sosial. Dengan pesan-pesannya ini, Al-Muqanna berupaya meraih dukungan massa.
Metode Propaganda Al-Muqanna
Floating in the ether of mysticism, Al-Muqanna menggunakan kepercayaan dan harapan orang-orang Khurasan untuk membentuk pesan propagandanya. Dia memanfaatkan mitologi setempat, elemen teologi Islam, dan prinsip-prinsip kesejahteraan sosial untuk menciptakan cerita yang menyejukkan hati pengikutnya dan menarik simpati mereka.
Dia menyerukan pembebasan hamba, redistribusi tanah, dan tuntutan konsep sosialisme yang masih inovatif untuk zamannya. Dengan memadukan elemen-elemen ini dalam pesan-pesannya, Al-Muqanna tidak hanya menciptakan gambaran tentang dunia yang lebih baik tetapi juga mendapatkan pemahaman dan dukungan yang luas.
Akhir dan Pengaruh Al-Muqanna
Meskipun pemberontakan Al-Muqanna akhirnya dipadamkan oleh kekaisaran Abbasiyah, dampak dan pengaruhnya tetap ada. Sosoknya ditampilkan dalam sastra Persia dan dia adalah subjek dalam novel “The Blind Owl” oleh Sadegh Hedayat, dan “The Veiled Prophet” oleh Thomas Moore, menampilkan bagaimana sosoknya telah melintasi batas waktu dan ruang.
Al-Muqanna adalah contoh bagaimana propaganda bisa melampaui batasnya sendiri dan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam sejarah dan budaya sebuah masyarakat. Seperti halnya Al-Muqanna di Khurasan, penyebar pesan memiliki kekuatan dan pengaruh yang signifikan dalam membentuk pandangan dunia kita dan pengalaman kolektif kita.
Sosok Al-Muqanna menunjukkan bahwa kekuatan sebuah cerita bisa berjalan seiring dengan waktu, dan punya efek yang mendalam bahkan setelah orang yang menceritakannya telah lama pergi. Namun, ia juga merupakan peringatan tentang bahaya propaganda ketika digunakan untuk memperjuangkan tujuan yang merugikan atau manipulatif. Seiring berjalannya waktu, kita harus selalu ingat bahwa pentingnya kritis dan waspada terhadap pesan yang kita terima.