Berhala Besar yang Disembah Masyarakat Arab, Kecuali…

Berdasarkan sejarah dan tradisi mereka yang pernah ada, masyarakat Arab kuno telah lama dianggap sebagai masyarakat yang menganut politeisme, artinya mereka percaya dan menyembah lebih dari satu Tuhan, biasanya yang diwakili dalam bentuk berhala. Namun, ada satu berhala besar yang tidak benar-benar dianggap sebagai Tuhan, atau setidaknya tidak pada tingkat yang sama dengan yang lain.

Pendahuluan

Sebelum datangnya Islam di Arabia, masyarakat Arab jahiliyah, atau masyarakat Arab dalam keadaan “kegelapan”, sering kali menempatkan berbagai bentuk tuhan dan berhala untuk disembah, termasuk alam semesta, bumi, dan lain sebagainya. Biasanya, berhala-berhala ini terdiri dari batu atau patung-patung yang dicarve dan dianggap suci.

Berhala-berhala Arab

Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat adalah tiga berhala yang paling terkenal dan banyak disebut-sebut dalam sejarah Arab pra-Islam. Mereka dihormati dan disembah oleh banyak suku Arab sebagai tuhan-tuhan mereka. Tidak hanya suku Arab, namun juga komunitas lain yang berada dalam cakupan pengaruh Arab.

  1. Al-Lat: Diyakini sebagai dewi kesuburan dan pencipta, Al-Lat adalah salah satu berhala yang paling banyak disembah. Berhala ini berlokasi di Ta’if, dan diyakini sebagai salah satu “putri Allah” dalam mitologi Arab pra-Islam.
  2. Al-Uzza: Juga dikenal sebagai “Yang Terkuat”, Al-Uzza adalah dewi perang dan perlindungan yang banyak disukai oleh para pejuang Arab.
  3. Manat: Paling terkenal sebagai dewi takdir dan waktu, Manat adalah tuhan tertua dari tiga berhala tersebut. Berhala ini lokasinya di antara Mecca dan Madinah.

Pengecualian Berhala

Namun, penting untuk dicatat bahwa walau banyak berhala ditempatkan dalam mata penglihatan masyarakat, ada satu berhala yang tidak dimaksudkan untuk disembah sebagaimana berhala lainnya — yaitu Hubal. Hubal dianggap sebagai berhala terbesar dalam Ka’bah sebelum Islam, tetapi, menariknya, tidak diterima sebagai tuhan sepenuhnya oleh sejumlah masyarakat Arab.

Hubal adalah patung yang dibuat dari batu agat merah, dan dianggap sebagai simbol kejayaan dan kekuatan. Bukanlah fungsinya untuk disembah, melainkan sebagai semacam talisman atau amulet yang diharapkan bisa memberikan perlindungan dan keberuntungan. Dalam kenyataannya, Hubal mungkin ditempatkan di Ka’bah dan mendapatkan penghormatan, tetapi tidak mendapatkan pemujaan yang setara dengan berhala lain seperti Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat.

Kesimpulan

Sejarah dimaknai berdasarkan penafsiran dan pengetahuan yang kita miliki. Masyarakat Arab kuno mungkin telah melewati periode mereka dimana berhala-berhala ditempatkan sebagai wakil tuhan. Namun, walaupun demikian, Hubal menunjukkan bahwa tidak semua berhala ditempatkan dengan tujuan yang sama. Mungkin ada lebih banyak pengecualian lain yang perlu kita pelajari dan pahami untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang sejarah dan budaya ini.

Leave a Comment