Perbedaan Perhitungan HPP pada Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur

Perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) merupakan aspek penting dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Melalui perhitungan HPP yang akurat, perusahaan dapat menggali informasi penting untuk mengoptimalkan biaya produksi dan penjualan serta untuk mengukur kinerja usaha secara keseluruhan. Dalam tulisan ini, kita akan membahas perbedaan perhitungan HPP pada perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur.

Perusahaan Dagang

Perusahaan dagang adalah perusahaan yang menjual barang dagangan tanpa mengolah atau merubah bentuk barang tersebut. Contoh perusahaan dagang adalah toko, supermarket dan distributor. Perhitungan HPP pada perusahaan dagang umumnya lebih sederhana dibandingkan dengan perusahaan manufaktur. Berikut adalah komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam menghitung HPP pada perusahaan dagang:

  1. Persediaan Awal: Stok barang dagangan yang tersedia pada awal periode.
  2. Pembelian: Biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang dagangan yang akan dijual kembali selama periode.
  3. Potongan Pembelian: Pengurangan harga yang diberikan suplier, seperti diskon pembelian.
  4. Retur Pembelian: Barang yang dikembalikan ke suplier karena tidak sesuai atau rusak.
  5. Biaya Pembelian: Biaya yang dikeluarkan saat melakukan pembelian barang dagangan seperti biaya pengiriman.
  6. Persediaan Akhir: Stok barang dagangan yang tersisa di akhir periode.

HPP perusahaan dagang dihitung dengan rumus berikut:

HPP = (Persediaan Awal + Pembelian – Potongan Pembelian – Retur Pembelian + Biaya Pembelian) – Persediaan Akhir

Perusahaan Manufaktur

Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual. Misalnya pabrik tekstil, pabrik makanan dan industri otomotif. Perhitungan HPP pada perusahaan manufaktur lebih kompleks karena melibatkan beberapa komponen biaya yang tidak ada pada perusahaan dagang. Berikut komponen-komponen dalam perhitungan HPP perusahaan manufaktur:

  1. Persediaan Bahan Baku Awal: Stok bahan baku yang tersedia pada awal periode.
  2. Pembelian Bahan Baku: Biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku selama periode.
  3. Persediaan Bahan Baku Akhir: Stok bahan baku yang tersisa di akhir periode.
  4. Biaya Tenaga Kerja Langsung: Upah yang dibayar kepada pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi.
  5. Biaya Overhead Pabrik: Biaya yang terkait dengan proses produksi selain bahan baku dan tenaga kerja langsung, seperti listrik, air dan penyusutan mesin.

HPP perusahaan manufaktur dihitung dengan rumus berikut:

HPP = (Persediaan Bahan Baku Awal + Pembelian Bahan Baku – Persediaan Bahan Baku Akhir) + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik

Kesimpulan

Perhitungan HPP pada perusahaan dagang dan manufaktur memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam komponen-komponen biaya yang digunakan. Perusahaan dagang hanya perlu memperhatikan biaya yang berkaitan dengan pembelian barang dagangan, sementara perusahaan manufaktur harus menghitung biaya produksi yang meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Memahami perbedaan ini akan membantu pengelola perusahaan dalam mengendalikan biaya dan meningkatkan keuntungan.

Leave a Comment