Sejarah Nusantara mencatat berbagai peristiwa perang antar kerajaan yang telah menandai perkembangan peradaban kita. Dua diantaranya yang paling menonjol adalah Perang Paregreg dan Perang Bubat. Meski mungkin tampak serupa dalam hal itu adalah bentuk konflik militer, namun perang ini memiliki banyak perbedaan jika dilihat dari beberapa faktor tertentu.
Definisi dan Sejarah Pendek
Sebelum kita mendalam ke detail utama, mari kita pahami dulu apa itu Perang Paregreg dan Perang Bubat.
Perang Paregreg (1404-1406 M) adalah konflik antara utusan kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada melawan Raja Hayam Wuruk. Perang ini berakhir dengan kemenangan Hayam Wuruk dan memicu masa keemasan Majapahit yang mencakup wilayah Nusantara secara luas.
Perang Bubat (1357 M) merupakan perseteruan antara Kerajaan Sunda dengan Majapahit yang terjadi akibat perselisihan mengenai rencana pernikahan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Raja Sunda, dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit. Perang ini berakhir tragis dengan jatuhnya Putri Pitaloka dan rombongan kerajaan Sunda.
Faktor Utama Perbedaan
Motif Perang
Perang Paregreg didorong oleh konflik kekuasaan antara anggota kerajaan Majapahit sendiri, sedangkan Perang Bubat dipicu oleh perangkat diplomatik yang memanas ― yakni, masalah pernikahan antarkerajaan.
Pihak yang Terlibat
Dalam Perang Paregreg, kedua belah pihak, yaitu Gajah Mada dan Hayam Wuruk, berasal dari kerajaan yang sama — Majapahit. Sementara itu, Perang Bubat mencakup pihak dari dua kerajaan yang berbeda yakni Kerajaan Sunda dan Majapahit, menjadikannya perang antarkerajaan.
Hasil Akhir
Dari sudut pandang hasil, Perang Paregreg memicu masa keemasan Majapahit dan penyebaran pengaruhnya di Nusantara, sedangkan Perang Bubat berakhir tragis dan melukai diplomasi antar kerajaan sampai akhirnya mengarah pada keruntuhan Kerajaan Sunda.
Secara keseluruhan, baik Perang Paregreg maupun Perang Bubat memiliki perannya masing-masing dalam sejarah Nusantara. Meski kedua perang tersebut terjadi dalam kerangka yang berbeda, keduanya mencerminkan kompleksitas dan dinamika hubungan politik dan militer dalam sejarah Indonesia.