Sebagai desainer, setiap orang harus memiliki pemahaman tentang proses pembuatan desain yang hampir tak terbatas. Setiap proses berikutnya adalah pembaruan dari proses sebelumnya dan membutuhkan pemahaman yang kuat tentang setiap langkah untuk menciptakan produk yang berhasil. Namun, tak sedikit orang yang salah kaprah menafsirkan setiap langkah dalam proses desain ini. Salah satunya adalah studi yang kerap dikira sebagai bagian dari proses pembuatan desain. Pada kenyataannya, studi dan desain adalah dua hal yang berbeda dan saling melengkapi.
Memahami Proses Pembuatan Desain
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai studi, penting untuk memahami proses pembuatan desain terlebih dahulu. Proses pembuatan desain biasanya melibatkan empat langkah utama, yakni mendefinisikan masalah, merancang solusi, membuat mockup atau prototipe, dan akhirnya melakukan tes atau review. Setiap langkah ini dimaksudkan untuk mendorong desainer berpikir secara sistematis dan berpusat pada pengguna dalam merancang produk atau layanan.
Tempat Studi dalam Desain
Dalam proses desain, studi memiliki peran penting tetapi bukan bagian dari pembuatan desain itu sendiri. Studi seringkali dilakukan sebelum proses pembuatan desain dimulai dan setelah desain selesai.
Sebelum proses desain, studi digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang user atau pengguna dan konteks mereka. Ini bisa melibatkan penelitian pasar, wawancara pengguna, dan observasi etnografis. Setelah desain selesai, studi bisa digunakan untuk mengevaluasi dan menguji desain tersebut di dunia nyata. Ini bisa melibatkan pengetesan pengguna, analisis data, dan evaluasi heuristik.
Bisa dikatakan bahwa studi adalah ‘kawan setia’ desain dalam memastikan bahwa hasil desain benar-benar memenuhi kebutuhan pengguna. Namun, harus diingat bahwa studi sendiri bukanlah bagian dari proses pembuatan desain, melainkan alat yang membantu mendukung dan menginformasikan proses tersebut.
Kejelasan Memisahkan Studi dari Proses Pembuatan Desain
Menganggap studi sebagai bagian dari proses pembuatan desain mungkin tampak seperti perbedaan semantik, tetapi penting untuk memahami perbedaan ini. Dengan jelas memisahkan studi dari proses pembuatan desain, desainer dapat lebih fokus pada tujuan dan metode masing-masing langkah proses.
Selain itu, memisahkan studi juga membantu desainer untuk lebih memahami dan menghargai peran dari masing-masing elemen. Dalam hal ini, studi bukanlah langkah yang harus ‘dilompati’ atau ‘dilewatkan’, melainkan suatu praktek yang penting dan berharga dalam membantu memahami dan memecahkan tantangan desain.
Penutup
Secara keseluruhan, pembahasan ini mungkin tampak semantik, tetapi memahami perbedaannya dapat membantu kita menjadi lebih baik dalam menjalankan proses pembuatan desain. Seperti yang telah disebutkan, studi memiliki peran penting dalam mendukung dan menginformasikan proses desain. Namun, berbeda dengan proses pembuatan desain itu sendiri. Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat lebih optimal dalam melakukan desain dan penelitian.