Salah satu spirit masyarakat yang menjadi mendasar dalam budaya Indonesia adalah gotong royong. Merupakan keseimbangan antara hak dan tanggung jawab individu maupun komunitas, gotong royong adalah sebuah bentuk kerjasama dan toleransi yang dipupuk dalam masyarakat.
Gotong royong memiliki beberapa dimensi yang menjelaskan konsep ini. Namun, perlu dipahami juga ada beberapa elemen yang bukan merupakan bagian dari dimensi bergotong royong. Artikel ini akan mencoba menjelaskan beragam elemen tersebut.
Dimensi Bergotong Royong
Sebelum berbicara tentang elemen yang bukan menjadi bagian dari dimensi bergotong royong, kita perlu memahami apa saja yang menjadi dimensinya. Secara keseluruhan dimensi gotong royong mencakup beberapa aspek, antara lain:
- Kerelatan sosial, yakni adanya ikatan batin yang mempersatukan individu-individu dalam suatu kelompok.
- Kerjasama dalam pekerjaan, terutama pekerjaan yang sifatnya menguntungkan bagi komunitas.
- Rasa tanggung jawab, dimana satu sama lain merasa mempunyai kewajiban untuk bekerja sama dan saling menolong.
- Keterbukaan, yang mencakup kejujuran dan terbuka dalam menyampaikan pendapat dan ide.
Namun, dalam praktik, terdapat beberapa elemen yang sering dianggap sebagai bagian dari gotong royong, tetapi sebenarnya bukan.
Elemen yang Bukan Bagian dari Dimensi Bergotong Royong
Berikut adalah beberapa elemen atau aspek yang sering dianggap sebagai dimensi dalam gotong royong, tetapi sebenarnya bukan:
1. Individualisme
Perilaku individualisme, dimana setiap individu hanya memikirkan kepentingan sendiri dan tidak memedulikan orang lain, sama sekali bukan merupakan elemen dari dimensi bergotong royong. Dimensi gotong royong lebih berfokus pada rasa tanggung jawab, kerjasama, dan kerelatan sosial.
2. Persaingan yang Menciptakan Perpecahan
Dimensi gotong royong tidak mengandung unsur-unsur persaingan yang dapat menciptakan perpecahan dalam kelompok atau masyarakat. Fokus utama dari dimensi ini adalah kerjasama dan saling menolong, bukan menciptakan tiap individu untuk bersaing satu sama lain hingga menciptakan perpecahan.
3. Egoisme dan Sifat Eksklusif
Gotong royong tidak merangkum elemen egoisme dan sifat eksklusif, dimana suatu kelompok atau individu merasa superior dan mengecualikan individu atau kelompok lainnya. Gotong royong sejatinya memupuk rasa keterbukaan, kerjasama dan toleransi terhadap semua anggota masyarakat.
Banyak dari kita yang beranggapan bahwa perilaku seperti individualisme, persaingan, atau egoisme adalah bagian dari dimensi gotong royong. Namun, sebenarnya hal tersebut sama sekali tidak sesuai dengan esensi sejati dari gotong royong.
Memahami esensi sejati dari gotong royong, dan membedakan mana yang merupakan elemen sejati dari gotong royong dan mana yang bukan, sangat penting dalam menjaga dan menerapkan nilai gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Semoga artikel ini menjernihkan pemahaman kita tentang gotong royong, nilai luhur yang harus terus kita jaga.