Pembelajaran adalah proses multidimensi yang melibatkan banyak aspek psikologis, termasuk emosi, perilaku, dan kognisi. Meskipun semua aspek ini penting, ada tren dalam pendidikan modern untuk fokus secara eksklusif pada aspek kognitif, seringkali melupakan elemen-elemen lainnya. Membatasi diri hanya pada orientasi kognitif dalam pembelajaran dapat menyebabkan beberapa isu yang perlu diakui dan ditangani.
Kegagalan dalam Menjalankan Metakognisi
Pertama, pembelajaran yang berorientasi kognitif mengharuskan siswa untuk berperan aktif, biasanya melalui penalaran dan pemecahan masalah. Meski kedua hal ini penting, mereka juga menantang dan bisa menjadi sumber stress bagi siswa. Tanpa penekanan pada aspek emosional dan perilaku dalam pembelajaran, siswa mungkin tidak dilengkapi dengan keterampilan metakognitif, seperti regulasi emosi dan stress, yang diperlukan untuk bekerja dalam situasi akademik yang menantang.
Kurangnya Motivasi untuk Belajar
Kedua, fokus eksklusif pada orientasi kognitif dalam pembelajaran dapat merusak motivasi siswa. Motivasi belajar lebih dipengaruhi oleh aspek emosional daripada kognitif. Dengan cara ini, siswa bisa kehilangan semangat belajar dan terlibat secara aktif dalam proses belajar mereka, yang pada gilirannya bisa berdampak negatif pada hasil belajar mereka.
Tidak Efektif dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial
Ketiga, fokus total pada aspek kognitif sering kali mengabaikan pengembangan keterampilan sosial siswa. Pembelajaran adalah proses yang tidak hanya melibatkan individu, tapi juga interaksi dan kolaborasi dengan orang lain. Jika tidak ada penekanan pada keterampilan ini, siswa mungkin akan kesulitan dalam membangun hubungan yang baik dengan teman sebaya dan guru, serta dalam kerja kelompok atau projek kolaboratif.
Pendekatan pembelajaran holistik yang mencakup semua aspek psikologis siswa – baik itu kognitif, emosional, maupun perilaku – akan memiliki dampak yang lebih positif pada pengalaman belajar mereka. Selain mendapatkan pengetahuan dan keterampilan akademik, siswa juga akan belajar bagaimana mengendalikan emosi mereka, memotivasi diri sendiri untuk belajar, dan bekerja efektif dengan orang lain. Semua ini adalah keterampilan penting yang tidak hanya berguna dalam konteks akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan karir masa depan.
Dengan demikian, penting bagi pendidik dan pembuat kebijakan untuk melampaui pendekatan yang satu dimensi dan melihat siswa sebagai individu yang kompleks dengan kebutuhan belajar yang beragam dan saling terkait. Hanya fokus pada orientasi kognitif dalam pembelajaran dapat menyebabkan kendala dalam proses pendidikan, sehingga penting untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih inklusif dan holistik.