Salat, ritual ibadah yang lima waktu yang menjadi salah satu rukun Islam, memiliki pedoman dan aturan yang jelas dan rinci. Dalam pelaksanaannya, kita seringkali mengalami gangguan konsentrasi yang bisa menjebak kita dalam keraguan dan ketidakpastian, misalnya saja, lupa jumlah rakaat yang telah dikerjakan. Dalam keadaan ini, seorang muslim disarankan untuk melaksanakan sujud sahwi atau sujud lupa.
Misalkan Hasim yang sedang melaksanakan salat, tiba-tiba ia teringat bahwa bilangan rakaat yang dikerjakannya lebih dari yang seharusnya. Hasim dalam hal ini menjadi ragu, apakah benar rakaatnya lebih atau mungkin ia sedang lupa. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya Hasim melanjutkan salatnya dengan keyakinan bahwa rakaatnya belum lebih. Hal ini berdasarkan petunjuk dalam Hadis dari Rasulullah SAW, “Apabila salah seorang dari kalian ragu-ragu dalam salatnya dan tidak tahu berapa rakaat yang telah dikerjakannya, tiga atau empat rakaat, maka hendaklah dia membuang keraguannya dan bangun dari apa yang diyakininya, kemudian lakukan sujud dua kali sebelum salam” .
Setelah menyelesaikan rakaat terakhir dan membaca tahiyyat akhir, Hasim kemudian melakukan sujud sahwi sebelum mengucapkan salam penutup. Sujud sahwi dilakukan dengan dua sujud sama seperti sujud biasa, dengan membaca bacaan dalam sujud, “Subhanallah” sebanyak tiga kali. Setelah sujud kedua, Hasim duduk sejenak sebelum mengucapkan salam yang menandai berakhirnya salat.
Pendapat ini didukung oleh beberapa ulama dan menjadi panduan umum dalam menangani keraguan dalam salat. Para ulama dalam Mazhab Hanafi berpendapat bahwa sujud sahwi harus dilakukan sebelum salam apabila seseorang meragukan jumlah rakaat yang sudah dikerjakan.
Namun, harus diingat bahwa keraguan dalam salat dapat dihindari dengan meningkatkan khusyuk dan memperbaiki kualitas ibadah kita. Mengingat salat adalah momen langka antara hamba dengan Tuhannya, setiap muslim dituntut untuk menjaga kualitas dan sebisa mungkin menghindari keraguan atau lupa ketika melaksanakan salat.