Pernahkah Anda mendengar tentang frasa “Bhinneka Tunggal Ika”? Bahasa Sanskerta ini telah diadopsi menjadi moto nasional Indonesia yang berarti “Berbeda tetapi tetap satu”. Kalimat ini sering dijumpai dalam berbagai platform diskusi, simbol bangsa, dan terutama dalam bukunya yang berjudul.
Frasa “Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari buku kuno bertuliskan Jawa Kuno, yaitu Serat Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit. Buku ini telah menjadi fondasi kuat dari titik temu perbedaan dan keragaman yang ada di Indonesia.
Berbicara Mengenai Sejarah Buku dan Kalimat Bhinneka Tunggal Ika
Dalam buku yang berjudul “Serat Kakawin Sutasoma”, penulis menceritakan tentang kisah raja yang mencari kebenaran spiritual dan bertemu dengan berbagai orang dari berbagai agama dan latar belakang. Dalam perjalanannya, Raja Sutasoma mengungkapkan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjadi pesan moral dalam ceritanya.
Penggunaan Kontemporer Kalimat Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika menjadi simbol dari pemersatu bangsa Indonesia, mengingat Indonesia memiliki berbagai latar belakang budaya, agama, suku, dan bahasa. Motto ini merujuk pada perjuangan negara ini untuk menyatukan berbagai kelompok etnis dan budaya ke dalam satu bangsa, satu negara.
Kesimpulan
Terlepas dari asal-usulnya, kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” telah menjadi mantra penting bagi bangsa Indonesia. Implikasi dari kalimat tersebut memberikan gambaran jelas mengenai filosofi yang mencerminkan keragaman budaya dalam kesatuan negara Indonesia.
Buku “Serat Kakawin Sutasoma” dan kalimat penting di dalamnya, “Bhinneka Tunggal Ika,” adalah potret sempurna dari kekayaan dan keragaman budaya di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kalimat ini semakin relevan dan penting, menjadikannya lebih dari sekadar kutipan dari buku tua, tetapi sebagai prinsip dasar yang memberi arah negara.