Haram menjadi Hijrah, itu adalah penggambaran peristiwa penting dalam sejarah Islam, ketika Rasulullah SAW dan umat Muslim beliau di Makkah menjalankan hijrah ke Madinah. Kisah ini memaparkan rasa cinta yang tulus dan kasih sayang yang mendalam Rasulullah SAW terhadap umatnya, terutama anak-anak yatim. Dan dari kisah ini, kita belajar dan menghargai keajaiban yang terjadi saat unta Rasulullah, Qaswa, berhenti di penjemuran kurma milik seorang anak yatim.
Penantian Madinah
Sesampai di Madinah, Muazin berbaris di tepi jalan, siap menyambut kedatangan Rasulullah SAW. Unta Rasulullah, Qaswa, secara perlahan melangkah menuju kota yang akan menjadi pusat perkembangan Islam berikutnya. Saat itulah muncul keajaiban. Qaswa berhenti tepat di penjemuran kurma. Bukan di penjemuran kurma sembarang orang, tetapi milik anak yatim dari Banu Najjar.
Penjemuran Kurma Anak Yatim
Anak yatim ini merupakan kepala rumah tangga setelah kematian orang tuanya. Penjemuran tersebut adalah peninggalan dari orang tuanya, menjadi sumber mata pencaharian yang tulus untuk dirinya dan keluarganya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat unta Rasulullah berhenti melangkah tepat di penjemuran kurmanya.
Hikmah di Balik Keajaiban
Sebagai Rasul yang paling mulia, Rasulullah SAW tidak memilih tempat yang mewah dan megah untuk membangun rumah dan masjid pertama di Madinah. Malah, beliau memilih tempat yang dipakai oleh orang miskin dan anak yatim. Ini adalah bukti betapa besarnya rasa kasih sayang Rasulullah SAW terhadap anak yatim, dan bagaimana beliau selalu memperhatikan dan memperjuangkan hak-hak mereka.
Pelajaran
Kisah ini memberikan banyak pelajaran bagi kita semua. Pertama, kita harus selalu peduli dan berusaha membantu anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Sang Rasul sendiri telah menunjukkan kasih sayang yang luar biasa kepada mereka. Kedua, kita harus selalu merendahkan hati dan tidak memilih-milih, khususnya dalam hal yang menyangkut kepentingan umum.
Sesungguhnya, “Sesampai di Madinah, unta Rasulullah berhenti di penjemuran kurma milik anak yatim dari Banu Najjar” memberikan kita kisah yang memikirkan dan teladan yang dapat ditiru, bahwa cinta dan kasih sayang bisa bermuara pada tindakan yang paling tidak terduga, dan bisa mencapai orang yang paling membutuhkan.