Ketika musim hujan tiba, keadaan tidak selalu menjurus ke romantisme. Hujan yang berjatuhan menandai perubahan suasana, menumbuhkan kebahagiaan bagi beberapa, ketakutan bagi lainnya. Salah satunya adalah Kota Juwana, tempat dimana hujan tak hanya berarti air dari angkasa, melainkan juga membawa potensi banjir yang cukup parah.
Hujan dan Banjir: Dua Sisi Mata Uang
Pada saat musim hujan tiba, kota Juwana mengalami kebanjiran, fenomena yang sudah dikenal oleh masyarakat sebagai rutinitas tahunannya. Air yang melimpah tak hanya dari langit, tetapi juga dari sungai dan saluran air yang tak mampu menampung debit air yang begitu besar. Ditambah lagi, tanah di kota ini mempunyai tingkat penyerapan yang tidak cukup, membuat air mengalir bebas ke permukaan, membanjiri berbagai wilayah.
Dampak Banjir: Kongkret dan Kritis
Air di sini bukan hanya merusak selimut kota dengan membanjiri rumah, jalanan, dan infrastruktur penting lainnya, juga menciptakan berbagai problem sosial dan kesehatan. Warga melakukan evakuasi, anak-anak tak bisa bersekolah, usaha terhenti, dan risiko penyebaran penyakit melonjak tajam.
Langkah Pencegahan dan Respon: Upaya Melawan Bencana
Namun, pemerintah dan masyarakat setempat tidak tinggal diam. Berbagai langkah pencegahan dan respon telah diambil untuk mengurangi dampak kebanjiran. Pengerukan saluran air, penanaman pohon, pembangunan waduk dan tanggul sebagai upaya pencegahan, hingga pembentukan tim penanggulangan bencana, dapur umum dan posko evakuasi sebagai respon saat banjir melanda.
Hujan dan Harapan: Hadapi dengan Kesiapsiagaan
Musim hujan dan banjir seolah menjadi dua hal yang tak bisa dipisahkan di Kota Juwana. Namun, bukan berarti kita harus tinggal diam dan menerima. Terus belajar dari pengalaman masa lalu, menerapkan teknologi yang ada, dan berkolaborasi sebagai masyarakat adalah hal penting yang harus terus dilakukan. Sebab, pada saat musim hujan tiba, kota Juwana mengalami kebanjiran air, tapi di sini juga merupakan tempat dimana harapan dan kesiapsiagaan tumbuh dan berkembang.