Dalam membicarakan tentang sifat Tuhan, kita harus mempertimbangkan konsep tawheed, yaitu keyakinan dalam ke-Esaan Allah. Dalam konteks ini, diskusi tentang sifat-sifat Allah menjadi sangat penting. Ada konsensus umum dalam ajaran Islam bahwa Allah bersifat Maha Esa, Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan lain sebagainya. Salah satu pernyataan yang cukup membingungkan dan seringkali menjadi subjek perdebatan adalah “kita yakin bahwa Allah bersifat bashar berarti mustahil Allah bersifat.”
Allah dan Sifat Bashar
Kata ‘bashar’ dalam bahasa Arab berarti manusia atau makhluk yang berkaitan dengan fisikalitas dan materialitas. Mengattribusikan sifat ini kepada Allah bermasalah karena ini berarti menurunkan status-Nya dan membuat-Nya serupa dengan ciptaan-Nya. Dalam Al-Quran, Allah berulang kali menegaskan bahwa Dia tidak seperti apa pun yang kita ketahui (Surah Al-Ikhlas, Ayat 4).
“Dan tidak ada satu pun yang serupa dengan Dia.”
Berarti Mustahil Allah Bersifat
Konsep ini penting dalam memahami Allah dan ciri-ciri-Nya. Dia bukanlah entitas fisik dan tidak memiliki sifat yang sama dengan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, dengan tegas kita bisa mengatakan bahwa jika kita yakin Allah bersifat bashar, maka mustahil bagi Allah untuk memiliki sifat-sifat tersebut.
Mengerti dan Menghayati Konsep Tauhid
Memahami dan menghayati ini adalah landasan penting dalam iman dan aqidah dalam Islam. Allah bukan hanya unik dalam keberadaan-Nya, tetapi juga dalam sifat-Nya. Dia berada di atas semua keterbatasan fisik dan konseptual yang kita kenal. Oleh karena itu, mencoba memahami Dia dengan menggunakan kerangka pikir manusia atau makhluk lainnya adalah suatu usaha yang sia-sia.
Kesimpulan
Pernyataan “kita yakin bahwa Allah bersifat bashar berarti mustahil Allah bersifat” sebenarnya adalah seruan untuk kembali kepada konsep tauhid dalam wujud dan sifat Allah. Itu adalah pengingat bahwa Allah bukan seperti ciptaan-Nya dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Oleh karena itu, membahas sifat-sifat Allah haruslah dilakukan dengan hati-hati dan rasa hormat, selalu ingat bahwa pengetahuan kita tentang Allah terbatas pada apa yang Dia wahyukan kepada kita dalam Al-Quran dan Hadis.