Karena rasa penasaran yang mendalam inilah, saya memutuskan untuk mengalihkan pandangku ke sebuah pemandangan yang jarang dipandang oleh mata, sebuah pemandangan indah dan menenangkan: gugusan tanah gunung yang teriris oleh kolam.
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang menembus celah-celah puncak gunung, berpadu dengan kabut tipis yang ada diatas kolam. Gunung – bukit yang menjadi tempat tinggal banyak makhluk hidup, tempat berpijak para petani, tempat hutan yang asri menjadi peneduh bumi, menampakkan wajahnya di hadapan mata. Hadir sebagai simbol kegagahan dan kejadian alam yang tidak mampu ditiru oleh tangan-tangan manusia pemberani.
Namun, hal yang sangat unik dan jarang ditemui adalah sebuah kolam, kolam air jernih yang teriris mengelilingi kaki para gunung. Kolam ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber air yang melimpah, tetapi juga sebagai cermin bagi gunung yang megah berdiri. Lukisan alam yang terhampar sungguh luar biasa.
Mengulas detail setiap inci kulit bumi ini, saya merasa terhanyut dalam kedamaian dan keindahan yang disajikan alam. Air kolam yang tenang seolah-olah berkontribusi untuk menciptakan suasana yang damai dan tenang pada hari itu. Refleksi gunung dan pepohonan di permukaan air, seakan mengajak saya untuk berhenti sejenak, merenung dan menikmati. Menyadari bahwa alam ini diberikan untuk kita hargai dan jaga, bukan untuk kita rusak.
Petualangan visual ini lebih dari sekedar melihat gunung atau kolam. Ini adalah petualangan rohani, dimana kita ditantang untuk menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar kita. Menghargai setiap indahnya detail yang terjalin dalam harmoni antara gunung dan kolam. Kata “kolayangkan pandangku ke gugusan tanah gunung yang teriris oleh kolam,” bukan hanya sekedar kalimat biasa. Itu adalah panggilan untuk melihat lebih dekat keindahan alam, mencintai setiap detailnya, dan bertekad untuk menjaganya.
Karna, betapapun indahnya pemandangan ini, kita pasti akan merasa sedih bila suatu saat nanti keindahan tersebut hilang karena ulah kita sendiri. Mari kita mulai hari ini, menanam rasa cinta dan peduli terhadap alam. Karna hanya dengan itu, kita bisa memastikan keindahan alam ini dapat terjaga dan dinikmati oleh generasi mendatang.
Terakhir, saya berdiri di tempat ini, menghela nafas panjang, memejamkan mata dan merasakan suara angin, gemericik air, dan desahan pepohonan. Ketika membuka mata, kulayangkan pandangku kembali dan meneguhkan janji pada diri sendiri,” akan selalu menjaga dan melestarikan gugusan tanah gunung ini, yang teriris indah oleh kolam”.