Kurangnya Kepercayaan Masyarakat pada Era Orde Baru: Sebuah Telusur

Dalam mempelajari sejarah politik Indonesia, kita tak bisa lepas dari yang namanya Orde Baru. Pengambil alihan kekuasaan oleh Soeharto dari Soekarno, peralihan dari era komunis hingga pentingnya militer dalam pemerintahan, semua ini merupakan ciri khas Orde Baru yang penuh dengan kontroversi. Salah satu aspek yang paling mencolok dari masa ini adalah ketidakpercayaan yang tiba-tiba muncul dalam hati masyarakat. Dalam artikel ini, kita akan membahas salah satu alasan mungkin munculnya ketidakpercayaan tersebut.

Monopoli Kekuasaan: Soeharto dan Cengkeraman Besi

Salah satu alasan yang paling berat, yang seolah-olah menjadi batu loncatan bagi munculnya ketidakpercayaan, adalah monopoli kekuasaan yang sangat kuat oleh Soeharto. Soeharto, sebagai pemimpin tertinggi Orde Baru, berhasil mempertahankan kekuasaannya selama lebih dari tiga dekade. Oleh banyak orang, kekuasaan Soeharto digambarkan sebagai cengkeraman besi, di mana dia dengan sangat cerdas memanipulasi sistem politik dan militer untuk mempertahankan posisinya.

Monopoli kekuasaan ini tidak hanya membuat masyarakat sulit mempengaruhi kebijakan pemerintah, tetapi juga menimbulkan berbagai isu seperti korupsi, nepotisme, dan pelanggaran hak asasi manusia. Inilah yang seolah “membakar” sentimen negatif di hati masyarakat dan berkontribusi besar dalam munculnya ketidakpercayaan.

Korupsi dan Nepotisme: Benih Ketidakpercayaan

Era Orde Baru sering diidentifikasi dengan korupsi yang merajalela. Bagi sebagian besar masyarakat, Orde Baru dianggap sebagai lambang korupsi di tingkat eksekutif. Dari skandal Bank Bali hingga proyek-proyek infrastruktur yang bermasalah, korupsi tampaknya telah menjadi ‘bagian dari sistem’.

Yang menjadi masalah bukan hanya korupsi itu sendiri, tetapi juga bagaimana pemerintah Orde Baru memperlakukan kasus-kasus korupsi. Bukan jarang, kasus korupsi melibatkan elit politik dan bisnis yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan, dan cara penanganannya sering kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Ini tentu saja memperkuat persepsi negatif masyarakat terhadap pemerintahan Orde Baru dan menambah benih-benih ketidakpercayaan.

Kesimpulan

Secara umum, ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Orde Baru dapat dilihat sebagai hasil dari monopoli kekuasaan dan korupsi yang merajalela. Dengan memahami alasan ini, kita bisa lebih memahami bagaimana sejarah politik Indonesia telah membentuk persepsi dan sikap masyarakat saat ini.

Perlu ditekankan bahwa pemahaman ini bukanlah suatu bentuk penilaian moral, melainkan upaya untuk memahami bagaimana sejarah mempengaruhi pandangan kita tentang politik dan pemerintahan. Dengan berlandaskan pada pengetahuan historis, kita dapat melihat ke masa depan dengan lebih jernih, dan berusaha mewujudkan pemerintahan yang lebih baik dan lebih adil bagi semua rakyat Indonesia.

Leave a Comment