Hikayat, sebagai genre karya sastra lama yang populer di Nusantara, kerap menyimpan misteri. Salah satu misteri yang cukup menarik adalah: siapakah penulis asli teks-teks hikayat ini? Banyak sekali teks hikayat yang diketahui hasil karyanya namun tidak jelas siapa pengarangnya. Namun, mengapa bisa demikian? Ada beberapa faktor yang membuat teks hikayat tidak diketahui pengarangnya.
Tradisi Lisan dan Kolektif
Teks hikayat umumnya lahir dari tradisi lisan. Cerita-cerita ini dituturkan dari generasi ke generasi, seringkali mengalami modifikasi seiring berjalannya waktu. Dalam proses ini, penulis asli dari cerita bisa terlupakan karena fokusnya lebih pada cerita itu sendiri, bukan pada siapa yang menciptakannya.
Fokus ke Pesan, Bukan Pengarang
Hikayat seringkali digunakan sebagai sarana edukasi dan moral, sebagai media penyampaian nilai-nilai budaya, norma, dan etika. Oleh karena itu, penekanan dalam hikayat lebih diarahkan pada pesan yang ingin disampaikan, bukan pada siapa pengarangnya. Penulis hikayat biasanya lebih memilih anonimitas, yang memungkinkan cerita tersebut untuk berbicara atas nama mereka, dan terkadang atas nama masyarakat secara keseluruhan.
Kehilangan Data Sejarah
Faktor lainnya yang menjelaskan kenapa pengarang teks hikayat tidak diketahui adalah kehilangan data sejarah. Selama berabad-abad, banyak teks hikayat yang hanya disalin dari naskah asli tanpa mencantumkan nama pengarangnya. Ini tentu saja mempersulit orang-orang modern untuk menemukan siapa yang sebenarnya menciptakan teks-teks tersebut.
Kurangnya Tradisi Penandatanganan Karya
Di masa lalu, tidak ada tradisi untuk penulis menandatangani karyanya, seperti yang biasa dilakukan penulis modern. Ini juga merupakan faktor utama yang membuat identitas penulis banyak teks hikayat masih menjadi misteri hingga kini.
Mengenai masalah tersebut, adanya upaya-upaya untuk mempelajari dan menganalisa karya sastra tersebut secara lebih detail adalah hal penting. Terlepas dari misteri pengarangnya, teks hikayat tetap menjadi bagian berharga dari warisan sastra kita, yang penuh dengan hikmah kearifan lokal. Sesungguhnya, teks hikayat merupakan cerminan budaya dan peradaban masa lampau yang patut kita hargai dan pelihara.