Biasanya, saat kita membicarakan tentang kurikulum, kita merujuk pada agenda pendidikan yang ditetapkan oleh suatu sekolah atau sistem pendidikan. Kurikulum biasanya berisi rincian bidang studi apa yang harus dipelajari murid, batasan materi yang harus dipahami, dan tolok ukur penilaian yang harus dicapai. Namun, apakah definisi ini sudah cukup padat?
Lebih sering daripada tidak, kita mengabaikan fakta bahwa pembelajaran tidak hanya terjadi melalui materi yang ada dalam buku pelajaran. Setiap kegiatan yang melibatkan murid, baik di dalam maupun di luar kelas, berkontribusi pada pembelajaran dan pengembangan mereka secara keseluruhan. Maka dari itu, ini membawa kita pada premis bahwa “kurikulum dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang dipelajari murid.”
Belajar Lebih Dari Sekedar Materi Pelajaran
Berbagai jenis pembelajaran dapat terjadi di lingkungan sekolah. Tentu saja, ada pembelajaran akademik, yang langsung diarahkan oleh kurikulum standar seperti matematika, sains, bahasa, dan lainnya. Namun, pembelajaran juga terjadi melalui interaksi sosial, kegiatan ekstrakurikuler, serta penerapan nilai-nilai dan perilaku pada kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seorang murid yang berpartisipasi dalam klub debat mungkin tidak hanya mempelajari keterampilan berbicara di depan umum, tetapi juga belajar bagaimana menyusun argumen yang logis dan mendengarkan pandangan orang lain. Demikian juga, seorang murid yang menjadi bagian dari tim olahraga dapat mempelajari konsep kerjasama tim, disiplin, dan pentingnya olahraga bagi kesehatan fisik.
Kurikulum: Lebih dari Sekedar Framework
Oleh karena itu, kurikulum seharusnya mencakup lebih dari sekedar agenda pelajaran. Itu harus mencakup pengalaman dan kesempatan belajar yang luas dan beragam, yang membantu pembentukan karakter dan kelihaian murid yang beragam. Dalam konteks ini, setiap aspek dari pengalaman sekolah – dari kegiatan kelas sampai kegiatan ekstrakurikuler, dari interaksi dengan guru sampai interaksi dengan teman sebaya – semuanya menjadi bagian dari “kurikulum” yang lebih luas.
Mengambil Langkah Lebih Jauh
Makna ini menuntut pendekatan yang lebih luas dan inklusif dalam merancang dan mengimplementasikan kurikulum. Edukator harus berusaha untuk menciptakan lingkungan belajar yang kaya dengan pengalaman dan kesempatan bagi semua murid. Etos ini berharap tidak hanya dalam meningkatkan pengetahuan akademik murid, tetapi juga dalam mengembangkan keterampilan hidup, kapasitas kepemimpinan, dan kompetensi lainnya yang penting untuk kehidupan di luar lingkungan akademik.
Dengan pengertian ini, kurikulum bukan lagi sekadar blueprint tetapi menjadi jantung dan ruh dari seluruh pengalaman pendidikan murid, membentuk mereka menjadi individu yang holistic, siap menghadapi tantangan dunia sebenarnya.