Governance atau tata kelola kerap menjadi perdebatan hangat di berbagai lapangan, mulai dari manajemen bisnis hingga ranah politik. Dalam proses governance, terdapat berbagai model interaksi yang terjadi. Model-model tersebut menggambarkan cara berbagai entitas, gradient berbagai lapisan organisasi, berinteraksi satu sama lain. Namun, ada pengecualian tertentu yang perlu kita pahami.
Model Interaksi dalam Governance
Berikut ini adalah jenis-jenis model interaksi yang umum terjadi dalam governance:
1. Model Hierarki
Model hierarki merupakan model yang paling umum dalam banyak organisasi atau entitas. Dalam model ini, interaksi terjadi secara vertikal, dari atas ke bawah atau sebaliknya. Atasan memberikan arahan kepada bawahannya, dan bawahannya melapor kepada atasannya.
2. Model Matrix
Model ini memadukan sifat hierarki dan horizontal. Dalam model ini, individu atau kelompok dapat memiliki lebih dari satu atasan dan rincian tugas yang lebih luas. Interaksi tidak hanya terjadi secara vertikal, tetapi juga horizontal di antara rekan-rekan sejawat.
3. Model Jaringan
Model jaringan merujuk pada tata kelola yang melibatkan berbagai entitas dan hubungan yang kompleks. Interaksi dalam model ini seringkali nonlinear dan melibatkan banyak pihak dengan kepentingan yang berbeda.
Pengecualian dalam Model Interaksi Governance
Meski berbagai model interaksi governance telah dijelaskan, ada satu pengecualian yan perlu kita pahami: tidak semua interaksi dapat diatur dan diprediksi dalam model-model tersebut.
Contohnya adalah saat situasi force majeure atau kejadian luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, model interaksi yang biasanya terjadi bisa jadi tak berlaku. Organisasi mungkin perlu merubah cara kerja dan interaksi mereka, yang mungkin tidak sesuai dengan model interaksi yang ada. Misalnya, pandemi Covid-19 telah mengubah cara banyak organisasi beroperasi dan berinteraksi, baik di dalam maupun di luar struktur yang sudah ada.
Penutup
Memahami model interaksi dalam governance penting untuk menjalankan dan mengatur sebuah organisasi atau sistem. Namun, kita juga harus menyadari ada situasi-situasi tertentu di mana model-model ini tidak berlaku. Dalam setiap situasi, adaptabilitas dan fleksibilitas menjadi kunci dalam menjalankan tata kelola yang efektif.