Tuil tulip di tepi jalan,
Melambai-lambai di penghujung senja,
Mendambakan cinta yang selalu ada,
Seindah senyum di wajah gadis jelita.
Kalau begitu, apa yang Anda perhatikan tentang empat baris tersebut? Baris pertama dan kedua tidak benar-benar berkaitan secara langsung dengan baris ketiga dan keempat, dan ada sesuatu tentang pengejaan akhir kata-kata. Jika Anda melihat lebih dekat, Anda akan melihat ada semacam pola bunyi yang berulang di akhir setiap baris. Pola ini disebut pantun. Namun, apa sebenarnya ‘bunyi yang berselang yang ada di akhir baris?’ Dan apa istilah yang digunakan untuk menyebutnya?
Pengulangan Bunyi dalam Pantun: Pengertian dan Fungsi
Dalam pantun, kita sering melihat adanya pengulangan bunyi yang berselang di akhir baris. Pola bunyi ini memberikan ritme dan nada yang unik pada pantun, memberikannya karakter dan pesona tersendiri. Dalam seni sastra, teknik ini disebut sebagai rima, dan dalam konteks pantun spesifik, ini disebut rima berselang.
Rima berselang adalah teknik sastra dimana suku kata akhir dari baris pertama dan ketiga, serta suku kata akhir dari baris kedua dan keempat memiliki bunyi yang sama atau serupa. Pengulangan bunyi yang sama pada setiap baris pantun ini menambah keindahan dan irama, serta menyediakan struktur yang jelas bagi pendengar atau pembaca.
Contoh Rima Berselang dalam Pantun
Sebagai contoh, perhatikan pantun berikut:
Mandi di kali ilmu tidak basah.Beli di pasar satu juta rupiah.Ilmu pengetahuan seakan harta karun,yang tak ternilai oleh uang sejuta rupiah.
Dalam pantun tersebut, kata ‘basah’ dalam baris pertama berima dengan ‘karun’ dalam baris ketiga. Demikian pula, ‘rupiah’ dalam baris kedua berima dengan ‘rupiah’ di baris keempat.
Kesimpulan
Pantun adalah bentuk sastra tradisional yang mengedepankan keindahan bahasa dan pantun. Rima berselang adalah salah satu elemen kunci dari pantun, yang menambah irama, struktur, dan keindahan pada pantun. Melalui pemahaman tentang rima berselang, kita dapat lebih menghargai keindahan dan kerumitan dari pantun, serta memahami bagaimana pantun dapat menjadi alat efektif untuk komunikasi dan ekspresi sastra.