Sarekat Islam (SI), yang didirikan pada tahun 1912, adalah organisasi yang memainkan peran penting dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sebagai organisasi yang menentang segala bentuk ketidakadilan dalam sistem kolonialisme, SI dengan cepat memenangkan hati rakyat Indonesia. Namun, perpecahan di dalam tubuh Sarekat Islam terjadi yang disebabkan oleh sebagian anggotanya yang dipengaruhi oleh ajaran Sneevliet yang beraliran komunis.
Sneevliet, yang merupakan petugas dari Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV), sebuah organisasi sosialis dari Belanda, awalnya hadir di Indonesia dengan tujuan untuk mendukung kaum buruh dan petani yang tertindas. Selama di Indonesia, Sneevliet menyebarkan ideologi komunis, yang kemudian diterima oleh sebagian anggota SI dan menimbulkan perpecahan dalam tubuh organisasi.
Sebagian dari anggota SI yang religius merasa khawatir bahwa ajaran komunis yang didukung Sneevliet akan mengancam nilai-nilai Islam yang menjadi dasar organisasi tersebut, sementara sebagian lainnya menilai bahwa ideologi tersebut bisa menjadi solusi dalam memperjuangkan hak-hak buruh dan petani.
Hal ini akhirnya mengarah pada perpecahan SI menjadi dua kelompok, yaitu Sarekat Islam Merah atau biasa disebut Sarekat Islam Sneevliet (SIS) yang dipengaruhi oleh idelogi komunis Sneevliet, dan Sarekat Islam Putih atau SI yang tetap memegang teguh nilai-nilai Islam.
Perpecahan ini menunjukkan bagaimana situasi politik dan sosial saat itu, khususnya dalam konteks penjajahan, bisa membawa perubahan dalam arah dan fokus sebuah organisasi. Sneevliet dan ideologi komunisnya, walaupun berpotensi menjadi solusi dalam mengatasi penindasan, ternyata juga menjadi akar dari konflik yang merobek Sarekat Islam.
Hal ini juga menjadi pelajaran bahwa dalam pergerakan, sejatinya memerlukan pemahaman dan konsistensi ideologi yang kuat. Sneevliet dan ajaran komunisnya memang memberi angin segar bagi beberapa anggota SI, namun dampak bagi organisasi secara keseluruhan bisa menjadi destruktif, sebagaimana yang terjadi pada perpecahan SI.
Namun demikian, harus diakui bahwa Sneevliet dan ajaran komunisnya juga telah memberikan kontribusi pada pergerakan kemerdekaan Indonesia. Memang, hasilnya mungkin tidak sejalan dengan harapan banyak pihak, namun tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini telah membuka mata banyak orang tentang realitas penindasan yang terjadi dan pentingnya perjuangan untuk hak-hak dasar rakyat.