Salah satu pilar masyarakat yang maju dan adil adalah penerimaan dan penghargaan terhadap keragaman. Namun, perbedaan kita seringkali menjadi panggung prasangka, memicu ketimpangan sosial. Mengapa demikian? Banyak faktor berperan, dan inilah beberapa penjelasan.
Prasangka: Akar dari Ketimpangan
Prasangka adalah prekonsepsi yang dibuat tanpa pengetahuan, pemahaman, atau alasan yang cukup, dan biasanya memiliki konotasi negatif. Dalam konteks ini, kita merujuk ke prasangka terhadap kelompok-kelompok sosial. Fenomena ini dapat memicu ketimpangan karena menciptakan hambatan bagi kelompok yang menjadi sasaran prasangka tersebut untuk dapat bersaing secara adil dalam masyarakat.
Prasangka Menghancurkan Peluang Sama
Masyarakat yang sehat menghargai setiap individu berdasarkan apa yang mereka bawa ke meja — bukan siapa mereka, dari mana mereka berasal, atau dengan siapa mereka mengidentifikasikan diri. Prasangka merontokkan gagasan ini, dengan menempatkan beban yang tidak adil pada kelompok-kelompok tertentu. Ini bisa mencakup diskriminasi dalam pekerjaan, pendidikan, atau kesempatan lainnya dalam kehidupan.
Prasangka Menyebabkan Isolasi Sosial
Orang yang menjadi sasaran prasangka sering merasa terisolir dan tidak dihargai oleh masyarakat. Prasangka membangun dinding antara “kita” dan “mereka”, menjauhkan orang dari partisipasi penuh dalam masyarakat. Isolasi ini dapat menyebabkan penurunan kesejahteraan mental dan fisik, dan juga memperburuk masalah ketimpangan.
Prasangka Melahirkan Siklus yang Berbahaya
Yang paling rumit adalah prasangka memicu siklus berbahaya. Ketimpangan sosial yang dihasilkan oleh prasangka mendorong peningkatan prasangka — masyarakat mungkin lebih enggan menerima orang-orang yang tampaknya “berbeda” atau “asing”, dan mereka yang mengalami diskriminasi mungkin menjadi semakin terpisah.
Bagi masyarakat untuk benar-benar maju, penting untuk melihat prasangka dan bias kita. Menggunakan pengetahuan dan empati untuk mencakup dan menerima keanekaragaman adalah kunci untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan adil. Mumpung perubahan tidak akan terjadi dalam semalam, setiap langkah kecil menuju penerimaan dan kesetaraan masyarakat bisa membantu meruntuhkan prasangka dan melawan ketimpangan sosial.