Peta telah digunakan sejak zaman kuno sebagai alat penting untuk navigasi dan pemahaman geografi dunia yang kita tempati. Salah satu hal yang seringkali kita abaikan adalah bahwa peta yang kita lihat – baik dalam bentuk cetak atau digital – mungkin bukan representasi yang sepenuhnya akurat dari tempat-tempat yang ditampilkan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pilihan proyeksi yang digunakan dalam pembuatan peta. Tulisan ini melihat kelemahan-kelemahan dari proyeksi yang digunakan pada peta di atas.
Pemahaman Tentang Proyeksi Peta
Sebelum kita bisa memahami kelemahan proyeksi peta, kita perlu memahami apa itu proyeksi peta. Bayangkan Anda mencoba mengubah kulit buah jeruk menjadi bidang datar; pertama, Anda harus memotongnya, membuka dan meratakannya. Sama halnya dengan langkah tersebut, permukaan bumi yang bulat perlu “ditarik” menjadi bidang dua dimensi untuk membuat peta, dan ini disebut proyeksi.
Kelemahan Proyeksi Peta
Secara teori, semua proyeksi peta sama-sama mengalami kompromi karena memetakan permukaan bumi yang bulat ke dalam bentuk 2D. Ada tiga nilai yang biasanya dipertaruhkan dalam proyeksi peta: area, bentuk, dan arah. Proyeksi tertentu mungkin mempertahankan satu atau dua dari nilai-nilai ini, namun tidak ada proyeksi yang dapat mempertahankan semua ketiganya sekaligus. Inilah yang menjadi kelemahan proyeksi yang digunakan pada peta di atas.
Kelemahan dalam Konservasi Area
Proyeksi, seperti Proyeksi Mercator, yang lebih fokus pada konservasi bentuk dan arah, sering kali mengubah ukuran wilayah yang ditampilkan. Misalnya, pada peta Mercator, Greenland tampak seukuran Afrika, padahal sebenarnya Afrika lebih dari 14 kali lebih luas dari Greenland.
Kelemahan dalam Konservasi Bentuk
Proyeksi seperti Proyeksi Peters, yang berusaha mengkonversi area dengan tepat, cenderung mengubah bentuk negara atau benua. Akibatnya, banyak negara tampak lebih “memanjang” atau “pendek” daripada yang sebenarnya.
Kelemahan dalam Konservasi Arah
Proyeksi yang mencoba mempertahankan area dan bentuk kadang mengubah arah. Misalnya, Proyeksi Robinson tidak bisa sepenuhnya mempertahankan arah yang akurat dari satu titik ke titik lain.
Kesimpulan
Mengingat kelemahan-kelemahan ini, sangat penting bagi kita untuk mengerti bahwa peta hanya alat bantu bagi kita untuk memahami dunia. Tidak ada satupun peta yang sempurna; masing-masing hanya menawarkan pendekatan yang berbeda terhadap tantangan yang sama.
Memahami kelemahan proyeksi yang digunakan pada peta di atas bukan berarti kita membenci peta, tetapi justru membuat kita lebih menghargai usaha-usaha yang dilakukan selama ini untuk menggunakan peta sebagai perangkat visual dalam merepresentasikan dunia. Selain itu, ini juga menggarisbawahi pentingnya literasi spasial dalam era informasi ini.