Menyelenggarakan sebuah wawancara bisa menjadi kegiatan yang menantang. Terkadang, wawancara merupakan penentu sukses atau gagalnya tujuan Anda, baik dalam dunia kerja, penelitian, atau tugas-tugas lainnya. Salah satu faktor krusial dalam sebuah wawancara adalah bagaimana Anda mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang baik akan membuka wawasan baru, sedangkan pertanyaan yang buruk akan membuat wawancara menjadi tidak efektif. Salah satu jenis pertanyaan yang sebaiknya dihindari dalam wawancara adalah pertanyaan yang berbelit-belit.
Pengertian Pertanyaan yang Berbelit-belit
Pertanyaan berbelit-belit adalah pertanyaan yang sulit untuk dipahami karena penjelasannya yang panjang dan rumit, seringkali mencakup beberapa ide atau topik sekaligus. Pertanyaan semacam ini dapat membingungkan responden, mempengaruhi kualitas jawaban mereka, dan pada akhirnya, merusak efektivitas wawancara.
Dampak Mengajukan Pertanyaan Berbelit-belit
Mengajukan pertanyaan berbelit-belit dalam wawancara bisa memberikan dampak negatif:
1. Membuat Responden Bingung
Pertanyaan berbelit-belit cenderung membingungkan responden. Banyak yang mungkin merasa tidak pasti apa yang sebenarnya ditanyakan, atau bagian mana dari pertanyaan yang harus mereka jawab terlebih dahulu.
2. Menghasilkan Jawaban yang Tidak Akurat
Dalam kebingungan, responden bisa saja memberi jawaban yang tidak akurat atau kurang tepat dengan apa yang Anda harapkan.
3. Membuat Wawancara Tidak Efektif
Pertanyaan berbelit-belit dapat membangkitkan stres dan tidak nyaman pada responden, yang pada akhirnya membuat wawancara menjadi tidak efektif dan tidak produktif.
Alternatif Mengajukan Pertanyaan
Gunakan pertanyaan yang jelas, singkat, dan langsung pada pokok permasalahan. Cobalah untuk fokus pada satu topik dalam satu pertanyaan. Anda juga bisa menggunakan kata-kata sederhana dan jelas untuk menghindari kerancuan.
Berikut adalah contoh cara merubah pertanyaan berbelit-belit menjadi lebih jelas dan langsung:
Pertanyaan berbelit:
“Apakah Anda bisa menjelaskan tentang pengalaman kerja Anda di perusahaan sebelumnya, bagaimana Anda menghadapi tekanan, dan apakah pengalaman tersebut yang membuat Anda memilih bidang pekerjaan ini?”
Pertanyaan yang lebih baik:
“Ini akan menjadi tiga pertanyaan. Pertama, bisa tolong ceritakan tentang pengalaman kerja Anda di perusahaan sebelumnya? Kedua, bagaimana Anda menghadapi tekanan di tempat kerja? Dan terakhir, apakah pengalaman tersebut yang mendorong Anda memilih bidang pekerjaan ini?”
Dengan pengecualian kasus tertentu, pertanyaan dalam wawancara sebaiknya dirancang secara jelas dan langsung. Hal ini tidak hanya memudahkan respondent dalam memahami pertanyaan, tetapi juga memungkinkan Anda untuk mendapatkan jawaban yang lebih akurat dan informatif. Dengan demikian, wawancara Anda akan menjadi lebih efisien dan produktif.