Salah satu tokoh pergerakan nasional yang terkenal dengan tulisannya yang berjudul “Als ik een Nederlander was” adalah Ki Hajar Dewantara, yang lebih dikenal dengan nama aslinya, Soewardi Soerjaningrat.
“Als ik een Nederlander was” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Seandainya aku seorang Belanda” merupakan tulisan yang dikritik Ki Hajar Dewantara terhadap pemerintah kolonial Belanda. Tulisan ini ditujukan sebagai respons atas rencana pemerintah kolonial yang akan menyelenggarakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Indonesia. Dalam tulisannya itu, Ki Hajar Dewantara mengkritik keras pemerintah kolonial dan merasa simpati terhadap nasib rakyat Indonesia kala itu.
Tulisan Ki Hajar Dewantara ini dipublikasikan dalam surat kabar De Express pada 13 Juni 1913 dan telah membuat veel Belanda merasa gusar dan marah. Dikarenakan tulisan tersebut, semua tulisan Ki Hajar Dewantara yang telah disebarluaskan oleh Komite Bumiputera akhirnya disita oleh kejaksaan dari pihak Belanda pada Juli 1913. Lantaran crita ini, Ki Hajar Dewantara akhirnya dibuang ke Belanda.
Perjuangan Ki Hajar Dewantara terhadap pemerintah kolonial tidak hanya melalui tulisan saja, ia juga mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan untuk anak-anak Indonesia. Tujuan dari didirikannya Taman Siswa adalah guna menciptakan generasi Indonesia yang berpendidikan, berilmu pengetahuan, dan memiliki cinta tanah air.
Melalui perjuangannya baik melalui tulisan maupun lembaga pendidikan, Ki Hajar Dewantara berhasil menyuarakan aspirasi dan semangat kebangsaan rakyat Indonesia atas penjajahan yang dialaminya. Ia pun lahir sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan tanggal lahirnya, 2 Mei, dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional.