Kerajaan Demak, sebuah kerajaan Islam di pulau Jawa, Indonesia, memiliki sejarah yang begitu kaya dan menarik. Namun, serangan yang paling terkenal dari kerajaan ini adalah serangan ke Malaka di bawah pimpinan Dipati Unus. Dalam tulisan ini, kita akan membahas tujuan dan motivasi di balik serangan tersebut.
Latar Belakang Serangan
Sebelum kita dapat memahami tujuan serangan ini, penting untuk mengetahui latar belakangnya. Pada tahun 1511, Portugis telah mengambil alih Malaka, sebuah pusat perdagangan penting di dunia Melayu. Penguasaan Portugis atas Malaka mengancam jalur perdagangan dan kehidupan kerajaan-kerajaan Nusantara, termasuk Demak.
Tujuan Serangan
Dipati Unus, pemimpin Kerajaan Demak pada waktu itu, memandang hal ini sebagai ancaman serius. Namun, serangan ke Malaka di bawah pimpinan Dipati Unus bukanlah semata-mata tindakan defensif. Dipati Unus dan Kerajaan Demak memiliki beberapa tujuan utama:
- Menghentikan Penjajahan Portugis: Portugis merupakan ancaman bagi kerajaan-kerajaan Nusantara. Mereka bukan hanya mengendalikan Malaka tetapi juga berusaha untuk mengembangkan pengaruh mereka di Asia Tenggara. Dengan mengalahkan Portugis di Malaka, Demak berharap untuk mencegah penyebaran penjajahan Portugis di wilayah tersebut.
- Mengembalikan Kedaulatan Malaka: Dengan mengambil alih Malaka, Demak berharap untuk mengembalikan kedaulatan asli Malaka.
- Menjaga Stabilitas dan Keamanan Interaksi Jaringan Maritim di Nusantara: Malaka merupakan pusat perdagangan utama dan jatuhnya kota ini ke tangan asing bisa mengganggu stabilitas dan keamanan jalur perdagangan di Nusantara dan Asia Tenggara.
- Menegakkan Kehormatan dan Martabat Kerajaan: Penaklukan Malaka juga sekadar mencari prestise dan kehormatan. Hal ini bisa dilihat dalam konteks kesultanan Jawa yang ingin menunjukkan kekuatan dan dominasinya.
Kesimpulan
Serangan Kerajaan Demak ke Malaka di bawah pimpinan Dipati Unus adalah tindakan strategis yang diambil untuk melindungi kepentingan kerajaan dan masyarakatnya serta menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut. Lebih dari itu, serangan ini merupakan bukti kerajaan-kerajaan di nusantara tidak diam ketika wilayah di sekitarnya dijajah. Meskipun tujuan utama serangan ini bisa terlihat berbeda-beda, semua berpusat pada tema sama: pertahanan, kehormatan, dan kemandirian.