Manusia telah melangsungkan ibadah haji dari era lampau hingga sekarang. Salah satu tahapan krusial yang harus dijalani para jama’ah haji setelah melakukan wukuf di Padang Arafah adalah bermalam di Muzdalifah. Dalam blog kali ini, kita akan menggali informasi dan fokus pada tahap ini untuk memahami keyakinan dan ritual yang terjalin.
Wukuf di Padang Arafah: Sebuah Munajat
Sebelum melanjutkan dengan pembahasan utama, mari kita pahami makna dan pentingnya Wukuf di Padang Arafah. Proses Wukuf, yang berarti ‘berdiri’ atau ‘berhenti’, dilakukan di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah, merupakan salah satu rukun Haji yang paling penting. Dalam kurun waktu tertentu, jama’ah haji berkumpul untuk berdoa dan memohon pengampunan kepada Allah. Pengalaman ini sering dikatakan sebagai detik-detik paling emosional dan spiritual dalam ibadah Haji.
Tujuan Bermalam di Muzdalifah
Setelah tahap Wukuf, jama’ah haji kemudian berkumpul dan menetap untuk bermalam di Muzdalifah, suatu area terbuka yang terletak antara Padang Arafah dan Mina. Bermalam di Muzdalifah adalah wajib, sering dikenal dengan istilah Mabit, dan merupakan bagian dari seri proses Haji.
Muzdalifah menjadi tempat berkumpulnya jama’ah dari berbagai penjuru dunia setelah melepas proses wukuf di Arafah. Mereka bermalam di bawah langit terbuka, mengumpulkan kerikil untuk melontar jumroh di Mina pada hari berikutnya. Bermalam di Muzdalifah merupakan simbol kesederhanaan dan persaudaraan; sebuah momen di mana semua perbedaan ras, umur, status sosial, dan kekayaan menjadi tidak signifikan mengingat semua jama’ah berada dalam kondisi yang sama.
Praktek Bermalam di Muzdalifah
Ritual bermalam di Muzdalifah dimulai dengan shalat Maghrib dan Isya secara jama’, juga dikenal sebagai ‘Shalat Ghaib’ karena dua shalat ini dilakukan sekaligus tanpa mempertahankan ruang waktu di antara keduanya. Sementara bermalam, para jama’ah juga diperbolehkan untuk beristirahat dan tidur.
Sebagai bagian dari ritual bermalam di Muzdalifah, para jama’ah juga mengambil tujuh kerikil kecil untuk dilemparkan ke Jumroh keesokan harinya, tiga dari tujuh tersebut untuk simbolisasi pelontaran setan oleh Nabi Ibrahim AS. Langkah ini menggambarkan penolakan terhadap setan dan semua godaannya.
Kesimpulan
Bermalam di Muzdalifah memegang peran penting dalam rangkaian ibadah Haji. Tak hanya sebagai pembuktian ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Tuhan, tetapi juga merupakan bentuk refleksi spiritual dan pengekspresian rasa persaudaraan antar umat Muslim di seluruh dunia. Melalui ritual haji ini, kita bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana Islam mengajarkan kesederhanaan, ketaatan, dan persaudaraan.