Kita semua mempunyai impian, tujuan hidup, dan harapan. Tetapi dalam perjalanannya, terkadang kita menemui berbagai hal yang menjadi penghambat. Dari semua faktor penghambat tersebut, ada dua yang sangat kuat dan seringkali dilewatkan oleh banyak orang, yaitu sikap apriori tertutup dan curiga berlebihan.
Sikap Apriori Tertutup
Sikap apriori tertutup adalah sikap di mana seseorang menutup dirinya dari kemungkinan dan pengetahuan baru tanpa mencoba memahaminya lebih dahulu. Dalam konteks ini, sikap apriori tertutup menjadi sangat merugikan karena membatasi seseorang dalam memiliki pemahaman dan pengetahuan yang lebih luas.
Dalam proses pencapaian tujuan, kita perlu menyimpan informasi, pelajaran, dan pengetahuan baru. Sayangnya, dengan sikap apriori tertutup, kita menjadi enggan untuk menerima dan belajar dari hal baru. Akibatnya, kita terhambat untuk mencapai tujuan karena terbatasnya pemahaman dan pengetahuan yang kita miliki.
Curiga Berlebihan
Kurangnya kepercayaan atau curiga berlebihan adalah sikap lain yang menjadi penghambat di dalam mengejar tujuan. Dalam hubungan interpersonal, kepercayaan adalah hal yang sangat penting. Tanpa kepercayaan, akan sulit untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain.
Curiga berlebihan seringkali membuat seseorang menjadi tertutup dan sulit untuk bekerja sama dengan orang lain. Dalam pencapaian tujuan, kerjasama sangat diperlukan. Jadi, jika kita terlalu curiga, maka kita akan kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain, dan alhasil bisa menjadi penghambat dalam pencapaian tujuan.
Penyeimbangan Sikap
Ambil jalan tengah. Itulah kuncinya. Sikap apriori yang tertutup harus diubah menjadi sikap terbuka namun tetap berhati-hati. Terbuka untuk menerima hal baru dan belajar, tetapi tetap memilih pengetahuan mana saja yang dapat dipercayai dan berpotensi membantu pencapaian tujuan.
Sementara itu, kita harus merubah sikap curiga berlebihan menjadi sikap percaya yang selektif. Percayalah pada orang lain agar dapat bekerja sama dengan lebih baik. Namun, tentu saja kita tetap perlu berhati-hati dan menggunakan pertimbangan yang baik.
Ketika sikap ini seimbang, maka pintu menuju pencapaian tujuan akan lebih terbuka lebar. Jadi, mari kita mulai bijaksana dalam menentukan sikap kita, baik itu sikap apriori maupun kepercayaan kita terhadap orang lain.